Cinta yang Menguatkan Dakwah: Kisah Nabi Muhammad SAW dan Khadijah bint Khuwaylid
Ilustrasi. (poto Ai)
Satuju.com - Sebelum dunia mengenal kerasulan, sebelum wahyu pertama turun di gua Hira, telah ada sebuah kisah cinta yang sangat tulus antara Muhammad ﷺ dan istrinya Khadijah bint Khuwaylid.
Kisah mereka bukan kisah cinta yang penuh kemewahan atau pesta besar.
Justru sebaliknya kisah cinta yang dibangun dengan kepercayaan, kesetiaan, dan pengorbanan.
Awal Pertemuan yang Penuh Kepercayaan
Pada masa itu, Khadijah bint Khuwaylid dikenal sebagai wanita bangsawan yang sangat kaya di kota Mekah.
Ia adalah seorang pedagang sukses yang mengirimkan kafilah dagang ke berbagai wilayah.
Namun Khadijah juga dikenal sangat bijaksana. Ia tidak sembarangan memilih orang untuk mengelola perdagangannya.
Ketika ia mendengar tentang seorang pemuda bernama Muhammad ﷺ yang terkenal dengan gelar Al-Amin (orang yang sangat terpercaya), ia tertarik untuk mempercayakan perdagangan kepadanya.
Nabi Muhammad ﷺ pun memimpin perjalanan dagang ke wilayah Syam.
Perjalanan itu berhasil dengan sangat baik. Keuntungan yang dibawa pulang bahkan lebih besar dari biasanya.
Namun yang membuat Khadijah semakin kagum bukanlah keuntungan itu, melainkan kejujuran dan akhlak Nabi Muhammad ﷺ.
Lamaran yang Tidak Biasa
Biasanya laki-laki yang melamar perempuan.
Namun dalam kisah ini justru Khadijah bint Khuwaylid yang lebih dahulu menyampaikan keinginannya untuk menikah dengan Muhammad ﷺ melalui perantara sahabatnya.
Saat itu Nabi Muhammad ﷺ berusia sekitar 25 tahun, sedangkan Khadijah lebih dewasa darinya.
Pernikahan pun terjadi dengan penuh kesederhanaan.
Tidak ada kemewahan besar.
Namun dari pernikahan itu lahir rumah tangga paling setia dalam sejarah Islam.
Cinta yang Teruji di Saat Tersulit
Salah satu kisah paling mengharukan terjadi ketika wahyu pertama turun di Gua Hira.
Malam itu Muhammad ﷺ pulang dalam keadaan gemetar.
Beliau berkata kepada istrinya:
"Selimuti aku… selimuti aku."
Saat itulah Khadijah bint Khuwaylid menunjukkan ketenangan yang luar biasa.
Ia berkata dengan penuh keyakinan:
“Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahmi, menolong orang miskin, memuliakan tamu, dan membantu orang yang kesusahan.”
Khadijah pun menjadi orang pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Pengorbanan yang Jarang Diceritakan
Ketika dakwah Islam dimulai, kaum Quraisy mulai memusuhi Nabi.
Seluruh harta Khadijah bint Khuwaylid digunakan untuk membantu dakwah Nabi Muhammad ﷺ.
Ia tidak ragu mengorbankan kekayaannya demi perjuangan Islam.
Bahkan ketika kaum Muslimin diboikot di lembah Syi'b Abu Talib, Khadijah ikut merasakan penderitaan itu.
Wanita yang dahulu hidup dalam kemewahan harus menahan lapar bersama kaum Muslimin.
Tahun Kesedihan
Beberapa tahun kemudian Khadijah bint Khuwaylid wafat.
Kepergian Khadijah sangat menyedihkan bagi Muhammad ﷺ.
Tahun itu dikenal sebagai Tahun Kesedihan, karena selain Khadijah, paman Nabi yaitu Abu Talib juga wafat.
Nabi Muhammad ﷺ sangat mencintai Khadijah.
Bahkan setelah Khadijah wafat, beliau sering menyebut namanya dengan penuh haru.
Beliau pernah berkata:
“Allah tidak memberiku pengganti yang lebih baik darinya.
Ia beriman kepadaku ketika orang lain mendustakanku.”
Kisah Nabi Muhammad ﷺ dan Khadijah mengajarkan bahwa cinta yang paling kuat bukanlah cinta karena dunia, tetapi cinta yang dibangun di atas iman dan pengorbanan.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

