“Perangkap Perujak” dan Bau Busuk Anggaran: Dugaan Road Map Korupsi di Balik Perpres 46/2025 dan Proyek IT Rp1,2 Triliun
Ilustrasi. (poto Ai)
Opini: Lhynaa Marlinaa
Satuju.com - Bau menyengat kini tak lagi berasal dari dapur umum, melainkan dari tumpukan dokumen anggaran di jantung kedaulatan. Analisis mengenai "Perangkap Perujak" terbukti bukan sekadar isapan jempol. Perpres 46/2025 yang awalnya digadang sebagai tameng hukum, kini justru tampak seperti peta jalan (road map) menuju korupsi yang didesain secara sistematis dan rapi.
Di balik jargon "Gizi Nasional", terselip proyek IT senilai Rp1,2 Triliun yang kami bedah menggunakan pendekatan forensik digital dan audit investigatif. Inilah anatomi perampokan atas nama Program Strategis Nasional (PSN).
1. Operasi "90 Hari Lenyap": Kemustahilan Teknis
Membangun sistem informasi untuk 5.000 titik dalam waktu 90 hari (Oktober–Desember 2025) adalah sebuah anomali. Secara teknis, ini bukan membangun sistem, melainkan "mencuci uang" melalui termin pembayaran akhir tahun.
Modus: Pengadaan barang jadi (white label) atau sewa infrastruktur sementara dengan harga yang di-markup secara irasional.
Indikasi: Dana terserap habis, namun sistem yang berdiri hanya sekadar pajangan digital tanpa ketahanan jangka panjang.
2. Angka Ghaib: Rp133 Juta Per Titik
Mari bicara angka. Setiap lokasi dapur MBG dibebani biaya IT sebesar Rp133 juta. Namun, hasil audit lapangan menunjukkan realitas yang kontras:
Estimasi Wajar: Tablet, router, dan sensor IoT sederhana hanya menyentuh angka Rp20-30 juta.
Selisih Misterius: Terdapat "dana gelap" sekitar Rp100 juta per titik. Dengan 5.000 titik, ada sekitar Rp500 Miliar yang menguap diduga untuk membiayai operasional "gerombolan" politik tertentu.
3. Pintu Belakang di Pasal 38
Legalitas "cawe-cawe" ini terkunci rapat dalam Pasal 38 Perpres 46/2025. Dengan mekanisme konfirmasi Mensesneg, kendali pengadaan ditarik paksa dari Badan Gizi Nasional (BGN) menuju Lingkaran Dalam Istana. Ini bukan lagi soal efisiensi, ini soal kendali mutlak atas aliran uang.
Jaring Laba-Laba: Siapa di Balik Vendor?
Berdasarkan pelacakan jejak digital pada log server cloud, muncul nama-nama yang berafiliasi kuat dengan lingkaran kekuasaan. Proyek ini ternyata adalah bagian dari "paket besar" yang melibatkan Retret Magelang dan operasional lapangan lainnya.
STRUKTUR KONSORSIUM "PENGURAS" ANGGARAN
