Rp800 Juta untuk “Kelola Opini”, MBG Sedang Memberi Makan Anak atau Membentuk Persepsi?
Ilustrasi. (poto Ai)
Oleh: Lhynaa Marlinaa
Satuju.com - Ketika angka Rp335 triliun digelontorkan untuk mengisi piring-piring anak bangsa melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah angka mungil namun tajam muncul di permukaan radar SIRUP (Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan). Angka itu adalah Rp800.000.000.
Judulnya dingin dan birokratis: "Pengelolaan Opini Publik." Namun, di balik diksi kaku tersebut, tersimpan sebuah mesin yang bekerja dalam sunyi untuk memastikan bahwa apa yang Anda dengar, Anda lihat, dan Anda percayai tentang MBG adalah narasi yang tanpa cela.
Membeli Gema di Ruang Hampa
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa di linimasa media sosial tiba-tiba muncul gelombang testimoni manis tentang lezatnya menu sekolah? Atau mengapa kritik mengenai anggaran yang bengkak seolah tenggelam oleh infografis yang serba berkilau?
Uang Rp800 juta ini adalah bahan bakar mesin persepsi. Di sinilah "orkestra" dimulai:
Sang Dirigen (Agensi Komunikasi): Dana sebesar ini jarang jatuh ke tangan individu. Ia biasanya mendarat di meja agensi media atau konsultan komunikasi profesional. Tugas mereka? Memastikan tidak ada celah bagi narasi negatif untuk bernapas.
Prajurit Digital (Buzzer & Influencer): Dalam dokumen negara, mereka mungkin disebut "Key Opinion Leaders". Namun di lapangan, mereka adalah suara-suara yang dibayar untuk mengamplifikasi keberhasilan dan meredam keraguan. Mereka menciptakan kesan seolah seluruh negeri sedang bersorak, padahal mungkin itu hanyalah pantulan dari anggaran yang terencana.
Efek Fatamorgana: Petugas SPPG mungkin sibuk di dapur dan gudang, namun "pasukan" ini sibuk di awan. Mereka mengubah data teknis yang membosankan menjadi konten yang emosional, menyentuh hati, dan yang paling penting menghalau kritik tajam terhadap transparansi anggaran.
Transparansi yang Menyingkap Tabir
Situs sirup.lkpp.go.id bukan sekadar kumpulan angka; ia adalah saksi bisu bagaimana opini publik kini menjadi komoditas yang "dikelola". Bahwa kebenaran di era digital seringkali bukan tentang apa yang terjadi di lapangan, melainkan tentang siapa yang memiliki anggaran paling besar untuk bercerita.
Jika untuk satu paket kecil saja pemerintah rela merogoh kocek hampir satu miliar demi "mengelola" pikiran kita, maka muncul pertanyaan besar:
"Apakah narasi hebat ini lahir karena kualitas programnya, atau karena mesin pencitraannya yang bekerja terlalu keras?"
Simpulan yang Menggelitik
Bagi para pencatat kebijakan, angka 800 juta ini adalah sebuah clue. Di tengah mega-proyek ratusan triliun, menjaga "wajah" agar tetap cantik di mata publik adalah investasi yang tak kalah krusial dibanding pengadaan susu dan nasi itu sendiri.
Rakyat diberi makan, namun di saat yang sama, persepsi rakyat sedang "disuapi" oleh skenario yang telah dibayar lunas. Apakah Anda akan menelan narasi itu bulat-bulat?
