Rupiah Sentuh Rp17.925 per Dolar AS, Terburuk di Era Prabowo dan Kian Dekati Level Rp18.000
Ilustrasi Dolar dan Rupiah. (poto/net)
Jakarta, Satuju.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan berat dan mencatatkan level terlemah sepanjang era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pelemahan tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar karena mata uang Garuda semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot pada Rabu (3/6/2026), rupiah terpantau melemah hingga menyentuh posisi Rp17.925 per dolar AS. Angka tersebut menjadi salah satu titik terendah yang pernah dicapai rupiah dalam sejarah perdagangannya dan menandai tekanan berkelanjutan yang masih membayangi pasar keuangan domestik.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, penguatan dolar AS, serta kekhawatiran investor terhadap dinamika ekonomi dan geopolitik internasional yang masih berlangsung.
Level Rp17.925 per dolar AS juga menempatkan rupiah hanya selangkah lagi menuju angka psikologis Rp18.000 per dolar AS, sebuah level yang selama ini menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi sentimen investor maupun aktivitas ekonomi nasional.
Sejumlah pengamat menilai pelemahan rupiah dapat memberikan dampak beragam terhadap perekonomian. Di satu sisi, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan daya saing ekspor Indonesia karena harga produk dalam negeri menjadi relatif lebih murah di pasar internasional. Namun di sisi lain, depresiasi rupiah juga dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, energi, dan berbagai kebutuhan industri yang masih bergantung pada produk luar negeri.
Tekanan terhadap nilai tukar juga berpotensi berdampak pada kenaikan biaya produksi sejumlah sektor usaha yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga barang dan jasa di dalam negeri.
Bagi masyarakat, pelemahan rupiah biasanya akan paling terasa pada sektor yang memiliki keterkaitan langsung dengan mata uang asing, seperti harga barang impor, biaya pendidikan di luar negeri, perjalanan internasional, hingga sektor industri yang menggunakan bahan baku impor.
Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan dari pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta memastikan gejolak di pasar keuangan tidak berdampak lebih luas terhadap perekonomian nasional.
Sementara itu, mendekatnya kurs rupiah ke level Rp18.000 per dolar AS menjadi salah satu indikator yang terus dipantau investor, mengingat nilai tukar merupakan salah satu barometer penting dalam mengukur stabilitas ekonomi suatu negara.
Hingga perdagangan Rabu sore, perhatian pasar masih tertuju pada perkembangan ekonomi global, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta respons otoritas moneter Indonesia dalam menjaga kepercayaan pasar dan kestabilan rupiah di tengah tekanan yang terus berlangsung.
