Prabowo dan BI Siapkan 7 Langkah Stabilkan Rupiah Saat Dolar AS Menguat
Foto AI hanya ilustrasi, JURUS PRABOWO MEMBENDUNG DOLAR.(poto/ist/Rosadi jamani)
Satuju.com - Rupiah terhadap dolar AS menjadi sorotan setelah nilai tukar sempat tertekan hingga menyentuh kisaran Rp18.027-Rp18.067 per dolar AS. Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memperkuat kepercayaan pasar.
Langkah tersebut dibahas dalam rapat terbatas bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Mei 2026. Pemerintah menegaskan pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam batas yang dapat dikelola dan berbeda dengan kondisi krisis ekonomi 1998.
Bank Indonesia mengambil sejumlah kebijakan untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Pertama, BI meningkatkan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar offshore.
Kedua, BI menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan menahan arus keluar modal asing.
Ketiga, BI menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran dana asing ke pasar keuangan dalam negeri.
Selain itu, pembelian dolar tunai tanpa underlying transaction dibatasi maksimal USD25.000 per orang setiap bulan. Kebijakan ini bertujuan mengurangi potensi spekulasi dan penimbunan valuta asing.
Pemerintah dan otoritas juga memastikan likuiditas perbankan tetap terjaga. Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter diperkuat, sementara pengawasan terhadap sektor perbankan dan korporasi diperketat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Di sisi lain, Bank Indonesia membantah anggapan bahwa pelemahan rupiah dilakukan secara sengaja untuk mendorong ekspor. Menurut BI, tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi faktor eksternal, seperti penguatan dolar AS secara global, ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak dunia, arus modal keluar, pembayaran dividen perusahaan, hingga meningkatnya kebutuhan valuta asing pada musim haji.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi menguat pada periode Juli hingga Agustus 2026 seiring membaiknya kondisi pasar keuangan global dan efektivitas kebijakan stabilisasi yang telah diterapkan.
Meski demikian, investor asing masih menunjukkan sikap hati-hati terhadap pasar Indonesia. Instrumen SRBI tetap diminati karena menawarkan imbal hasil menarik, namun minat terhadap pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN) belum sepenuhnya pulih.
Sejumlah faktor yang menjadi perhatian investor antara lain independensi bank sentral, prospek defisit fiskal, outlook peringkat utang Indonesia, serta isu terkait indeks MSCI.
Pemerintah menilai kondisi ekonomi saat ini masih jauh berbeda dibandingkan krisis moneter 1998. Saat itu, nilai tukar rupiah anjlok dari sekitar Rp2.400 menjadi lebih dari Rp17.000 per dolar AS, pertumbuhan ekonomi terkontraksi hingga 13,1 persen, inflasi melonjak tinggi, dan banyak bank mengalami kegagalan.
Saat ini, pelemahan rupiah tercatat sekitar 7-10 persen secara year to date. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 masih berada di kisaran 5,6 persen, inflasi sekitar 2,4 persen, sementara cadangan devisa mencapai USD146 miliar atau setara pembiayaan sekitar 5,8 bulan impor.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah dan Bank Indonesia optimistis stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga meski menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS dan ketidakpastian global.
