Video: Tradisi Penurunan Perahu Muntai Tetap Hidup, Nelayan Gotong Royong Luncurkan Kapal Baru
Tradisi penurunan perahu Muntai kembali digelar. Nelayan bergotong royong meluncurkan perahu baru disertai kenduri dan doa bersama.
MUNTAI, Satuju.com - Tradisi penurunan perahu Muntai kembali berlangsung di Desa Muntai, Jumat (19/6/2026). Puluhan nelayan setempat bergotong royong meluncurkan perahu baru milik M. Husni ke perairan desa sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Melayu pesisir yang masih terus dipertahankan.
Sebelum prosesi peluncuran dilakukan, pemilik perahu menggelar kenduri sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan bagi perahu yang akan digunakan untuk mencari nafkah di laut.
Dalam tradisi tersebut, sejumlah perlengkapan adat disiapkan, mulai dari pulut kunyit, bubur merah putih dengan porsi bubur putih lebih banyak, bertih, pisang, telur rebus yang telah dikupas, hingga tepung tawar. Seluruh perlengkapan itu menjadi simbol doa, keselamatan, dan harapan akan keberkahan.
Kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama yang dihadiri keluarga, tokoh masyarakat, dan para nelayan. Sebelum perahu diturunkan ke laut, penghulu adat, Kepala Desa Muntai, atau pihak yang mewakili terlebih dahulu membacakan sholawat di atas perahu sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan para leluhur.
Usai seluruh rangkaian adat selesai, warga dan nelayan Desa Muntai bersama-sama menurunkan perahu ke perairan. Suasana kebersamaan dan semangat gotong royong terlihat mewarnai prosesi tersebut.
Kepala Desa Muntai mengatakan, tradisi penurunan perahu telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Melayu pesisir.
“Tradisi ini sudah lama digunakan oleh para leluhur kita. Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, tradisi ini juga menjadi doa bersama untuk memohon keselamatan, keberkahan, serta keluasan rezeki bagi para nelayan yang mencari nafkah di laut. Kita berharap adat dan budaya seperti ini terus dilestarikan oleh generasi muda,” ujar Kepala Desa Muntai.
Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya menandai dimulainya penggunaan perahu baru, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi serta menjaga nilai gotong royong yang menjadi identitas masyarakat Desa Muntai hingga sekarang.
