Pelajaran dari Cape Verde: Ketika Negara Kecil Mengajari Bangsa Besar Bermimpi

Foto AI hanya ilustrasi, KECIL-KECIL CAPE VERDE.(poto/ist/Ahmadinejad Thaha)

Penulis: Cak AT - Ahmadie Thaha

Catatan Cak AT

Satuju.com - Ada ironi yang kadang datang sambil mengenakan sarung tangan kiper. Di layar televisi, seorang penjaga gawang berusia 40 tahun bernama Josimar Dias alias Vozinha memeluk bola erat-erat. Ia menunjuk rekan-rekannya agar tetap rapat menjaga pertahanan. 

Di hadapannya berdiri tim kesebelasan Spanyol, salah satu kekuatan besar sepak bola dunia. Di belakangnya berdiri tim kesebelasan Cape Verde, negara kepulauan kecil alias teluk yang bahkan mungkin baru dikenal banyak orang Indonesia melalui pertandingan itu. Tim ini mampu menaham imbang Spanyol.

Saat melawan tim raksasa sepakbola Uruguay, barusan, tim merah Cape atau Cabo Verde  itu justru memasukkan bola ke gawang lawan pertama kali. Mereka menguasai bola 44 persen vs 50 persen Uruguay yang terus menantang. Namun, akhirnya sekali lagi mereka mampu menahan imbang sang raksasa 2:2. Luar biasa!

Negara yang berada di Samudra Atlantik lepas pantai barat Afrika dan terdiri dari gugusan pulau vulkanik itu luasnya hanya sekitar 4.033 km², lebih kecil dari Pulau Bali (5.780 km²). Ia berpenduduk hanya 530 ribu jiwa.

Tetapi justru dari negeri kecil itulah muncul pertanyaan besar: mengapa mereka bisa sampai ke panggung dunia, sementara kita belum?

Pertanyaan itu terasa menohok karena Indonesia gemar menyebut dirinya negara besar. Penduduk kita lebih dari 280 juta jiwa. Kekayaan alam melimpah. Anak-anak bermain bola di lapangan kampung, di jalanan sempit, di halaman sekolah. Antusiasme terhadap sepak bola nyaris tak tertandingi. 

Namun hingga hari ini, Piala Dunia masih seperti rumah megah yang hanya bisa kita lihat dari luar pagar. Selama ini kita terlalu percaya pada mitos bahwa jumlah penduduk adalah jaminan prestasi. Logikanya sederhana: semakin banyak manusia, semakin besar peluang menemukan bakat terbaik. 

Padahal sejarah olahraga justru sering membantah keyakinan itu. Kroasia dengan sekitar empat juta penduduk mampu menjadi finalis Piala Dunia. Uruguay dengan sekitar tiga juta jiwa memiliki sejarah sepak bola yang disegani. Islandia yang penduduknya tak sampai setengah juta pernah mengguncang Eropa. 

Kini Cape Verde yang berpenduduk lima ratusan ribu itu ikut mengingatkan bahwa ukuran negara tidak otomatis menentukan mutu permainan. Yang menentukan adalah kemampuan mengubah potensi menjadi sistem. 

Sepak bola modern tidak dibangun dari sorak-sorai semata. Ia lahir dari kompetisi usia dini yang teratur, pelatih yang terus belajar, lapangan yang memadai, nutrisi yang baik, sport science, data analitik, dan tata kelola federasi yang sehat. 

Prestasi di level internasional adalah panen dari benih yang ditanam bertahun-tahun. Tidak ada jalan pintas menuju konsistensi.

Karena itu, pertanyaan seperti "apa kita kurang gizi?" atau "apa tubuh kita terlalu pendek?" sesungguhnya terlalu menyederhanakan persoalan. Jepang memberi pelajaran berharga. 

Rata-rata postur pemain Jepang tidak lebih unggul dibanding banyak bangsa Asia lainnya. Namun mereka membangun pembinaan secara serius, sabar, dan berkesinambungan. Mereka memperbaiki institusi, bukan menyalahkan genetik. Mereka menata metode, bukan mengutuki nasib.

Kita, sebaliknya, kadang lebih sibuk mencari kambing hitam daripada mencari akar masalah. Ketika menang, kita berpesta seolah seluruh pekerjaan telah selesai. Ketika kalah, kita mencari tersangka: pelatih, wasit, cuaca, keberuntungan, bahkan bentuk tubuh pemain. 

Yang jarang disorot justru hal paling mendasar: apakah sistem yang kita bangun memang memungkinkan bakat tumbuh secara sehat?

Dalam beberapa tahun terakhir, naturalisasi menjadi salah satu ikhtiar untuk meningkatkan daya saing. Tidak ada yang salah dengan itu. Banyak negara melakukannya. 

Yang menjadi persoalan adalah bila naturalisasi dianggap sebagai resep utama, bukan pelengkap sementara. Rumah tidak akan kokoh hanya dengan membeli genteng baru jika fondasinya dibiarkan retak. 

Naturalisasi dapat mempercepat proses belajar, tetapi pembinaan usia muda tetap menjadi jantung yang memompa kehidupan sepak bola nasional.

Padahal Indonesia memiliki modal sosial yang luar biasa. Stadion penuh. Pertandingan tim nasional menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Orang tua rela mengantar anaknya berlatih. Di warung kopi, terminal, hingga grup WhatsApp keluarga, sepak bola selalu menjadi bahan percakapan hangat. 

Energi sebesar ini adalah berkah. Namun energi tanpa arah hanya menghasilkan panas. Ia baru menjadi cahaya jika dipandu oleh visi, disiplin, dan kepemimpinan yang konsisten.

Barangkali karena itulah Cape Verde bukan sekadar kisah tentang negara kecil yang membuat kejutan. Ia adalah cermin bagi bangsa-bangsa besar yang terlalu lama terlena oleh statistik demografis. 

Penduduk banyak hanyalah angka. Kekayaan alam hanyalah potensi. Kebanggaan nasional hanyalah slogan. Semua itu baru bermakna ketika diterjemahkan menjadi kerja yang rapi dan berjangka panjang.

Maka pertanyaan yang lebih jujur bukan lagi, "Mengapa Cape Verde bisa?" Pertanyaannya adalah, "Apakah kita bersedia melakukan pekerjaan sunyi yang diperlukan agar suatu hari nanti kita juga bisa?" 

Sebab Piala Dunia bukan hadiah hiburan bagi negara berpenduduk besar. Ia adalah panggung bagi mereka yang tekun membangun fondasi, bahkan ketika tak ada tepuk tangan.

Vozinha mungkin tidak pernah membayangkan dirinya menjadi bahan renungan di negeri yang penduduknya ratusan juta jiwa. Tetapi dari sarung tangannya yang memeluk bola itu, kita memperoleh pelajaran sederhana: sejarah tidak memberi penghargaan kepada mereka yang hanya bangga pada besarnya potensi. 

Sejarah mencatat mereka yang sabar mengubah potensi itu menjadi prestasi. Sebab dalam sepak bola, seperti juga dalam kehidupan berbangsa, kemenangan bukan milik yang paling besar, melainkan milik mereka yang paling siap.