Ketegangan Iran-AS Memuncak, Sengketa Selat Hormuz Picu Ancaman Baru soal Jalur Minyak Dunia

Ilustrasi Bendera AS dan Iran.(poto/net)

Jakarta, Satuju.com - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah kedua negara saling melontarkan ancaman terkait keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan utama pengiriman minyak dunia. Situasi memanas setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim menghentikan tiga kapal tanker minyak yang mencoba melintasi kawasan tersebut tanpa koordinasi dengan Teheran.

Dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran, IRGC menyebut tiga kapal tanker itu mencoba melewati jalur di bagian selatan Selat Hormuz. Menurut mereka, salah satu kapal mengalami ledakan dan terbakar, sementara dua kapal lainnya berbalik arah.

"Tetapi setelah salah satunya meledak dan terbakar, dua lainnya dengan cepat berbalik dan kembali," demikian pernyataan IRGC.

Namun, pernyataan tersebut tidak menjelaskan waktu pasti terjadinya insiden maupun identitas kapal yang dimaksud. Hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai klaim tersebut.

IRGC juga menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran dan memperingatkan setiap kapal yang melintas tanpa berkoordinasi dengan Republik Islam Iran berpotensi menghadapi tindakan serupa.

Di tengah meningkatnya ketegangan itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran. Melalui platform media sosial Truth Social, Trump menyatakan Amerika Serikat akan menyerang infrastruktur sipil Iran apabila kapal-kapal di Selat Hormuz kembali menjadi sasaran serangan.

"Setiap kali Republik Islam Iran menembaki kapal di Selat Hormuz, baik itu dengan rudal, roket, drone, atau senjata lainnya, Amerika Serikat akan membom dan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik," tulis Trump.

Sementara itu, media Iran melaporkan wilayahnya kembali menjadi sasaran serangan. Kantor berita Tasnim menyebut rudal Amerika Serikat menghantam Pulau Larak yang berada di kawasan Selat Hormuz pada sore hari waktu setempat. Warga dilaporkan mendengar ledakan keras setelah serangan tersebut.

"Pada pukul 14.48, Pulau Larak menjadi sasaran rudal Amerika," tulis Tasnim.

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya tidak akan membiarkan negara lain menikmati ekspor minyak apabila Iran dihalangi menjual minyaknya sendiri akibat tekanan internasional.

Melalui pernyataan di media sosial X, Ghalibaf mengatakan konflik yang terjadi telah memasuki fase "all or nothing" atau "semuanya atau tidak sama sekali".

"Di kawasan di mana kami tidak dapat menjual minyak, tidak akan ada pihak lain yang akan menjual minyak," tegasnya.

Ia juga memperingatkan bahwa stabilitas kawasan akan sulit terwujud apabila keamanan Iran terus terancam. Menurutnya, tidak akan ada infrastruktur yang benar-benar aman jika keamanan negaranya tidak dijamin.

"Jika keamanan kami tidak terjamin, tidak akan ada infrastruktur yang aman, dan selat tersebut hanya akan aman jika tidak ada kehadiran pasukan Amerika," ujarnya.

Pernyataan-pernyataan dari kedua belah pihak semakin mempertegas meningkatnya eskalasi konflik di Selat Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute paling vital bagi perdagangan energi dunia, sehingga setiap ketegangan yang terjadi berpotensi memengaruhi stabilitas pasar minyak global serta keamanan kawasan Timur Tengah.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda meredanya perselisihan antara Iran dan Amerika Serikat. Komunitas internasional terus mencermati perkembangan situasi mengingat konflik di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap pasokan energi dan perekonomian global.