Agustus, Dua Kemerdekaan: Indonesia dan Linux

Poto Ai hanya ilustrasi, DUA KEMERDEKAAN.(poto/ist/Ahmadie Thaha)

Satuju.com - Agustus punya dua cerita tentang kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Empat puluh enam tahun kemudian, pada 25 Agustus 1991, seorang mahasiswa Finlandia mengumumkan proyek kecil yang kelak mengguncang dunia komputer: Linux.

Keduanya lahir dari ruang yang berbeda. Indonesia berangkat dari perjuangan melawan penjajahan. Linux bermula dari kamar seorang mahasiswa yang ingin membuat komputernya bekerja sesuai keinginannya.

Namun pesan keduanya serupa: jangan menyerahkan seluruh kendali atas hidup kepada orang lain.

Pada 17 Agustus 1945, Indonesia menyatakan kepada dunia bahwa bangsa ini ingin menentukan nasibnya sendiri. Pada 25 Agustus 1991, Linus Torvalds melakukan sesuatu yang jauh lebih sederhana. Ia menulis pesan di internet bahwa dirinya sedang membuat sistem operasi.

Linus tidak sedang mendirikan perusahaan. Ia tidak mempunyai tim ratusan insinyur. Tidak ada investor yang menunggu hasil.

Ia hanya memiliki komputer 386, rasa ingin tahu dan waktu.

Dari eksperimen itulah Linux tumbuh.

Dari Komputer 386 ke Dunia

Pada awal 1990-an, komputer personal bukan benda yang murah dan ringan seperti sekarang. Linus menggunakan komputer berbasis Intel 386 untuk mempelajari cara kerja mesin.

Ia memakai MINIX, sistem operasi yang dibuat profesor komputer Andrew Tanenbaum sebagai perangkat pembelajaran. Tetapi Linus merasa ada keterbatasan.

Ia kemudian memilih membuat sendiri.

Langkah itu terdengar sederhana. Dampaknya tidak.

Linus mulai menulis kode untuk membangun kernel, bagian inti sistem operasi yang mengatur memori, perangkat keras dan program.

Pada 25 Agustus 1991, ia mengumumkan proyek tersebut kepada komunitas internet.

Linus bahkan menganggapnya hanya sebagai hobi.

Sejarah punya selera humor sendiri.

Proyek yang disebut hobi itu kemudian berkembang menjadi salah satu fondasi penting dunia digital. Linux digunakan pada server, komputer, perangkat jaringan, superkomputer dan berbagai perangkat lain.

Android pun menggunakan kernel Linux.

Sebuah proyek kecil di komputer 386 akhirnya masuk ke kantong manusia, pusat data, jaringan internet, dan mesin komputasi berukuran raksasa.

Linux Pernah Disebut Kuno

Linux tidak lahir tanpa pertengkaran.

Andrew Tanenbaum, profesor yang membuat MINIX, mengkritik pendekatan Linus. Pada Januari 1992, ia menyebut Linux sudah kuno.

Kritik itu bukan datang dari sembarang orang. Tanenbaum adalah akademikus dan ahli sistem operasi.

Ia lebih menyukai pendekatan microkernel. Linus menggunakan monolithic kernel.

Di atas kertas, perdebatan itu rumit. Tetapi inti persoalannya sederhana: mana yang lebih penting, desain yang ideal atau sistem yang sudah bekerja?

Linus memilih membuktikan pilihannya lewat program.

Ia tidak perlu memenangkan perdebatan dengan kalimat panjang. Linux terus dikembangkan.

Tanenbaum tidak sepenuhnya salah. Linus pun tidak selalu benar.

Tetapi teknologi sering kali tidak memilih pemenangnya berdasarkan siapa yang paling indah teorinya.

Teknologi memilih apa yang bekerja.

Linux kemudian berkembang karena kode sumbernya terbuka. Pengembang dari berbagai negara ikut memperbaiki dan mengembangkan sistem tersebut.

Di sinilah Linux menemukan arti kemerdekaannya.

Gratis bukan inti persoalannya.

Yang lebih penting adalah keterbukaan.

Pengguna dan pengembang memiliki kesempatan untuk melihat cara kerja sistem, mengubahnya, memperbaikinya, dan membagikan hasil pengembangannya sesuai lisensi yang berlaku.

Kemerdekaan Bukan Sekadar Gratis

Program gratis belum tentu terbuka.

Sebuah perangkat lunak dapat digunakan tanpa membayar, tetapi pengguna tetap tidak mengetahui apa yang terjadi di balik layar.

Perangkat lunak terbuka menawarkan hal berbeda.

Ia memberikan kesempatan untuk melihat isi mesin.

Gagasan tersebut terasa semakin penting ketika teknologi memasuki era kecerdasan buatan.

Hari ini, AI bekerja seperti kotak hitam bagi banyak orang. Pengguna mengetik pertanyaan. Mesin menjawab. Selesai.

Kemudahan itu menggoda manusia untuk berhenti bertanya.

Padahal pertanyaan justru menjadi awal perjalanan Linus Torvalds.

Bagaimana kalau sistem ini dibuat sendiri?

Pertanyaan kecil tersebut melahirkan proyek yang bertahan lebih dari tiga dekade.

Dari BBS ke AI

Pengalaman dengan teknologi komputer pada masa awal internet memperlihatkan betapa cepat dunia berubah.

Pada akhir 1980-an, komputer XT 386 sudah digunakan untuk menunjang pekerjaan jurnalistik. Pada 1993, BBS menjadi salah satu sarana pengiriman berita melalui sambungan telepon dan modem.

Saat itu, suara modem yang berderit terdengar seperti bunyi aneh dari masa depan.

Data dikirim melalui kabel telepon.

Kini, informasi bergerak dalam hitungan detik. Video, dokumen, suara dan model AI dapat dijalankan dari perangkat yang masuk ke dalam tas atau bahkan genggaman.

Linux menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut.

Teknologi yang dulu terasa eksperimental kini menjadi infrastruktur yang nyaris tak terlihat.

Kita menggunakannya tanpa selalu tahu bahwa Linux bekerja di balik layar.

Pelajaran dari Seorang Mahasiswa

Linus Torvalds tidak memulai Linux dengan ambisi menjadi raksasa teknologi.

Ia ingin komputernya bekerja sesuai kebutuhannya.

Itu saja.

Tetapi dari keinginan sederhana tersebut muncul sebuah gerakan pengembangan perangkat lunak yang melibatkan orang-orang dari berbagai penjuru dunia.

Ada pelajaran yang mungkin lebih penting daripada sejarah Linux itu sendiri.

Kemajuan tidak selalu lahir dari mereka yang memiliki sumber daya terbesar.

Kadang-kadang ia lahir dari seseorang yang tidak puas dengan keadaan, lalu mencoba membuat sesuatu yang berbeda.

Karena itu, kemerdekaan teknologi bukan berarti semua orang harus menjadi programmer.

Kemerdekaan teknologi berarti pengguna memiliki pengetahuan yang cukup untuk tidak selalu menjadi konsumen pasif.

Di tengah ledakan AI, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting.

Siapa yang menguasai teknologi?

Bagaimana sistem bekerja?

Data siapa yang digunakan?

Bisakah teknologi diperiksa?

Dan seberapa jauh manusia masih memegang kendali?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi sejarah Linux menunjukkan bahwa pertanyaan sederhana bisa menghasilkan perubahan yang panjang.

Indonesia merayakan kemerdekaan setiap 17 Agustus.

Dunia teknologi mengingat kelahiran Linux setiap 25 Agustus.

Dua tanggal itu tidak memiliki hubungan sejarah secara langsung.

Tetapi keduanya menyampaikan pesan yang mirip: kemerdekaan bukan sekadar pernyataan. Ia adalah kemampuan untuk menentukan arah sendiri.

Indonesia membangun kedaulatan sebagai sebuah bangsa.

Linux menunjukkan kemungkinan membangun kedaulatan di dunia teknologi.

Seorang mahasiswa dengan komputer 386 pernah menyebut proyeknya sekadar hobi.

Tiga puluh lima tahun kemudian, dunia masih memakai hasilnya.

Barangkali memang begitu cara perubahan bekerja.

Ia tidak selalu datang dengan suara besar.

Kadang ia dimulai dari sebuah komputer tua, sambungan modem, beberapa baris kode, dan satu pertanyaan sederhana:

Bagaimana kalau saya membuatnya sendiri?

Cak AT - Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 17/8/2026. 


BERITA TERKAIT