satuju.com

Copyright © satuju.com
All rights reserved
Desain by : sarupo

Dasyat, Perang Digital Sambut Era Tegnologi

JAKARTA, Orientasi pusat teknologi intelijen yang didasarkan pada kemampuan industri dalam negeri harus menggandeng berbagai institusi yang mumpuni dibidangnya, dibutuhkan kecerdasan intelektual, intuisi dan loyalitas anak bangsa yang mendedikasikan dirinya pada bangsa dan negara. 

Sesungguhnya kita tidak kekurangan orang – orang cerdas yang kreatif, yang dengan mudah bisa melakukan transfer teknologi dan inovasi peralatan canggih.
 
Menarik, jika kita berbincang seputar dunia intelijen, baik dari perspektif kecerdasan, maupun kekuatan berpikir dan kecanggihan teknologi. saat mendengar istilah “intelijen”, secara otomatis pikiran kita akan teringat ketangkasan James Bond seorang intelijen Inggris atau Ethan Hunt intelijen AS dalam film Mission Imposible.

Dua istilah saling berkaitan dalam konteks ini, yaitu Human Inteligence dan Technology Intelligence. Secanggih apapun teknologi yang tersedia akan tidak bermanfaat jika orang tidak bisa menggunakannya, begitupun sebaliknya, secerdas apapun orangnya akan menjadi sia-sia jika tidak ditunjang teknologi canggih. 

Dua instrumen inilah yang menjadi pilar inteligen di masa yang akan datang. Oleh karenanya dalam membuat perencanaan intelijen harus menyiapkan SDM dan inovasi teknologinya. 

Dede Farhan Aulawi Ketua Perhimpunan Mata Elang Indonesia (PERMEI), di Bandung, Jumat (2/10/2020), mengatakan,"Kalau kita lebih rajin melihat transformasi teknologi dalam Kancing Kamera, Pena kamera, Mikro Pistol, Kacamata Recorder, Bom Tikus, Enigma, dan lain - lain, sangat luar biasa"

 

Untuk itulah, kata Farhan, PERMEI sebagai desainer intelijen sangat intens dalam mencetak kualitas SDM intelijen yang kompeten dan profesional.  Seorang intelijen harus mampu menjadi mata dan telinga para pengambil keputusan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan strategis. 

Tentu saja tingkat efektivitas dan produktivitas intelijen bisa diukur secara objektif. Apalagi dunia intelijen itu tidak akan lepas dari jargon kecerdasan dan kecanggihan. 

Rudy Jhon seorang pelaku Digital Inovasi, menimpali,"Saat ini kita memasuki era revolusi industri 4.0 yang menjadi titik awal digitalisasi peradaban memasuki seluruh sendi kehidupan kita, kalau kita tidak siap akan sangat berbahaya bagi keamanan Nasional,"ujarnya. 

Lagi menurut Rudy, negara harus mampu beradapsi dalam hubungan Internasional, kemampuan membangun jejaring menjadi sangat penting, bukan hanya semata – mata diterjemahkan untuk melakukan penetrasi, tetapi langkah preventif untuk memelihara agar suatu kondisi yang diinginkan tetap terjaga,kata Rudy.

Serangan siber dari satu titik ke titik lainnya terus bergerak, bahkan trendnya meningkat. Pergeseran paradigma medan pertempuran telah memasuki babak baru, infiltrasi menggunakan instrumen dan metode yang selalu baru, selalu berubah, dan sistem yang semakin canggih.

Doktrin yang muncul dalam teknologi seringkali dianggap sebagai sebuah kebenaran “absolut”, jika tidak disaring dengan kedewasaan berfikir akan mempengaruhi pola pikir, sikap dan cara pandang.**