Gempa NTT M 7,7 Telan Korban, Das"ad Latif Ajak Berdoa

Pendakwah Ustaz Das"ad Latif.(poto/ist/[email protected])

NAGEKEO, Satuju.com - Gempa NTT M 7,7 meninggalkan duka mendalam setelah mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Pendakwah Ustaz Das’ad Latif mengajak masyarakat Indonesia mendoakan para korban serta warga yang terdampak bencana.

Gempa terjadi sekitar pukul 04.58 WIB dengan pusat gempa berada di wilayah laut di sekitar utara Pulau Flores. BMKG menyebut gempa dipicu mekanisme sesar naik dan sempat memicu peringatan dini tsunami sebelum dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB.

Dampak gempa terasa di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur. Nagekeo menjadi salah satu daerah yang mengalami kerusakan cukup parah. Proses pencarian dan evakuasi korban juga menghadapi kendala akibat kerusakan infrastruktur, longsor, serta gangguan akses menuju sejumlah lokasi.

Jumlah korban meninggal terus berubah seiring proses pendataan. Laporan terbaru menyebut sedikitnya 47 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Ribuan warga juga dilaporkan mengungsi dari wilayah terdampak.

Di tengah situasi tersebut, Das’ad Latif menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia juga mengajak masyarakat ikut mendoakan keselamatan warga yang masih menghadapi dampak gempa.

"Semoga Allah merahmati dan melindungi saudara-saudara kita yang terdampak gempa. Cepat bangkit dan pulih saudara di NTT," ujar Ustaz Das'ad Latif.

Ia berharap proses pencarian dan evakuasi yang dilakukan tim gabungan dapat berjalan lancar. Dukungan terhadap masyarakat terdampak, menurutnya, juga diperlukan agar warga NTT dapat segera melewati masa tanggap darurat.

Gempa utama tersebut juga diikuti aktivitas gempa susulan. BMKG mencatat ratusan gempa susulan setelah kejadian utama dan mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama terhadap bangunan yang mengalami kerusakan.

Bencana ini menjadi perhatian luas karena dampaknya tidak hanya dirasakan di Nagekeo. Sejumlah wilayah di Flores dan daerah lain di kawasan timur Indonesia turut terdampak.

Sementara operasi penanganan bencana terus berlangsung, masyarakat diminta mengandalkan informasi resmi pemerintah dan lembaga kebencanaan serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.