Kemnaker Dampingi 20 Perusahaan Tingkatkan Produktivitas hingga November 2026
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli
Jakarta, Satuju.com — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) akan mendampingi 20 perusahaan dari sektor manufaktur, pelayanan kesehatan, dan perhotelan untuk meningkatkan produktivitas melalui perbaikan sistem serta proses kerja.
Pendampingan program tersebut akan berlangsung selama September hingga November 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong produktivitas perusahaan sekaligus memperkuat daya saing ekonomi dan meningkatkan kualitas dunia kerja Indonesia.
Pelaksanaan program melibatkan sedikitnya 25 spesialis produktivitas, 20 instruktur, serta 20 peserta pemagangan nasional.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan peningkatan produktivitas tidak cukup hanya dilakukan melalui peningkatan kompetensi tenaga kerja. Hal tersebut juga harus diikuti dengan pembenahan tata kelola dan proses kerja secara menyeluruh.
“Kompetensi tenaga kerja harus terhubung dengan produktivitas perusahaan. Ketika kompetensi meningkat, proses peningkatan kerja, teknologi dimanfaatkan secara optimal, dan budaya perbaikan berkelanjutan tumbuh, maka daya saing perusahaan dan perekonomian nasional juga akan meningkat,” ujar Yassierli melalui siaran pers Biro Humas Kemnaker, Minggu (23/8/2026).
Untuk memastikan intervensi sesuai dengan kebutuhan setiap perusahaan, Kemnaker menerapkan pendekatan peningkatan produktivitas berbasis perusahaan. Pendampingan diawali dengan pengukuran baseline dan produktivitas diagnosis.
Tahapan berikutnya meliputi identifikasi akar masalah, penyusunan rencana peningkatan produktivitas, perbaikan penerapan, hingga pemantauan dan evaluasi terhadap dampak yang dihasilkan.
Bentuk intervensi akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing perusahaan. Sejumlah aspek yang menjadi perhatian antara lain peningkatan efisiensi proses kerja, perbaikan kualitas layanan, pengurangan pemborosan, tata kelola tempat kerja, optimalisasi sumber daya manusia, proses digitalisasi, serta peningkatan kualitas produksi dan pelayanan.
Peserta Magang Terlibat Langsung
Keterlibatan peserta pemagangan nasional dalam program tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis kondisi nyata di dunia kerja. Para peserta akan memperoleh pengalaman langsung mengenai proses peningkatan produktivitas dengan berinteraksi bersama perusahaan, instruktur, dan spesialis produktivitas.
Yassierli menekankan bahwa peserta magang perlu memahami produktivitas sebagai bagian dari budaya kerja sejak awal memasuki dunia profesional.
“Peserta magang perlu memahami sejak awal bahwa bekerja bukan sekadar menyelesaikan tugas. Mereka juga harus belajar bagaimana suatu pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih baik, lebih efisien, lebih berkualitas, dan memberikan nilai tambah yang lebih tinggi,” ujarnya.
Menurut Yassierli, peningkatan produktivitas menjadi semakin penting seiring perubahan teknologi, dinamika pasar tenaga kerja, serta target Indonesia Emas 2045.
Produktivitas, katanya, tidak semata-mata menjadi ukuran kinerja perusahaan, tetapi juga perlu dibangun sebagai bagian dari budaya kerja yang mendorong perbaikan secara berkelanjutan.
Melalui program percontohan ini, Kemnaker menargetkan lahirnya model pendampingan peningkatan produktivitas perusahaan yang sistematis, terukur, dan terintegrasi. Model tersebut diharapkan dapat dikembangkan dan diterapkan secara lebih luas di berbagai sektor usaha di Indonesia.
