Bivitri Susanti Kritik Pendidikan yang Terlalu Mengejar Nilai, Gelar, dan Kepatuhan
Akademisi dan pakar hukum tata negara Bivitri Susanti
Jakarta, Satuju.com – Akademisi dan pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menyoroti arah pendidikan yang dinilainya masih terlalu menempatkan nilai, gelar, persaingan, dan pemenuhan sebagai ukuran keberhasilan.
Melalui akun Instagram pribadinya, @bivitrisusanti, Bivitri mengatakan persoalan pendidikan tidak seharusnya hanya dilihat dari siapa yang menjadi juara kelas atau siapa yang berhasil memperoleh gelar akademik tinggi.
Menurutnya, dalam sistem pendidikan yang menjadikan prestasi akademik sebagai ukuran utama, mereka yang dianggap tidak berprestasi sering dianggap sebagai orang yang kurang beruntung. Padahal, negara memiliki kewajiban untuk menyediakan akses terhadap pendidikan berkualitas bagi seluruh masyarakat.
Ia menekankan, akses pendidikan berkualitas harus dapat dirasakan semua orang, termasuk masyarakat miskin. Pendidikan, katanya, seharusnya membentuk peserta didik menjadi pribadi yang mampu berpikir dan memahami ilmu pengetahuan, bukan sekadar menjadi individu yang patuh terhadap aturan.
Bivitri menyoroti model pendidikan yang terlalu menekan, termasuk kebiasaan siswa harus meminta izin untuk bertanya atau menjawab dengan pola tertentu kepada guru.
Menurutnya, ilmu pengetahuan justru berkembang melalui kebebasan untuk bertanya, berdiskusi, menguji gagasan, bahkan menyimpulkan sesuatu yang dianggap benar.
“Karena ilmu pengetahuan hanya bisa bertumbuh dalam iklim bebas bertanya dan bebas pendapat. Ia akan mati dalam iklim yang dipaparkan,” tulis Bivitri.
Ia kemudian mengkritik budaya pendidikan yang menurutnya terlalu berorientasi pada persaingan dan perolehan nilai. Bahkan, ia menyinggung praktik mencontek yang dapat muncul ketika capaian angka menjadi tujuan utama.
Menurut Bivitri, kondisi tersebut berpotensi membentuk pola pendidikan yang justru menjauhkan peserta didik dari esensi belajar. Pendidikan akhirnya lebih banyak diarahkan untuk menjadi yang terbaik dibandingkan membangun kemampuan berpikir dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Pendidikan kita yang berorientasi persaingan, tinggi-tinggian nilai (meski mencontek), dan kepatuhan membuat kita jadi seperti di dalam lingkaran setan kebodohan,” tulisnya.
Mempertanyakan Makna Prestasi
Bivitri juga mengajak masyarakat untuk kembali mempertanyakan definisi keberhasilan dalam pendidikan.
Ia menilai predikat juara, perolehan piala, maupun gelar akademik tinggi belum tentu menjadi ukuran yang cukup untuk menentukan apakah seseorang benar-benar berhasil dalam pendidikannya.
Pertanyaan yang lebih penting, menurutnya, adalah sejauh mana pengetahuan yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan.
“Tapi apa itu ‘berprestasi’? Juara? Dapat piala? Dapat gelar tinggi-tinggi? Tapi apa kita punya manfaat buat orang-orang di sekitar kita?” ujarnya.
Kritik tersebut kemudian ia kaitkan dengan persoalan kehidupan sosial dan penyelenggaraan pemerintahan. Menurutnya, pendidikan yang terlalu menekankan kompetisi dan pencapaian pribadi juga perlu dikritisi agar tidak melahirkan orientasi mengejar kepentingan diri sendiri.
Ia bahkan menyinggung fenomena pejabat yang berlomba memperoleh gelar akademik hingga jenjang magister, doktor, maupun guru besar.
Menurut Bivitri, gelar akademik semestinya menunjukkan kapasitas keilmuan seseorang, bukan sekadar digunakan untuk menunjang karier ataupun membuat identitas seseorang terlihat lebih mentereng dalam berbagai forum.
“Pejabat-pejabat juga berlomba-lomba S2, S3, bahkan cari (beli?) gelar guru besar. Buat meniti karir atau agar mentereng di kertas suara atau sewaktu dibaca dalam sambutan-sambutan. Pendidikan jadi komoditas,” tulisnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Bivitri dalam konteks refleksinya mengenai pendidikan dan bagaimana sistem pendidikan membentuk cara berpikir masyarakat.
Ia menegaskan, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pencapaian angka, sertifikat, piala, maupun gelar. Lebih dari itu, pendidikan perlu menciptakan ruang bagi tumbuhnya kemampuan berpikir kritis, keberanian bertanya, serta kesadaran untuk menggunakan pengetahuan bagi kepentingan yang lebih luas.
Di akhir unggahannya, Bivitri menyebut pembahasan mengenai pendidikan merupakan persoalan yang sangat luas. Ia mengaku dapat membahasnya selama berjam-jam, namun kali ini berupaya merangkumnya dalam materi kuliah daring berdurasi sekitar 15 hingga 20 menit.
“Yah gitu deh, kalau ngomong pendidikan, bisa berjam-jam tapi saya coba padatkan jadi 15-20 menit seperti biasanya materi-materi kuliah online saya,” tulisnya.
