Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.885 per Dolar AS di Awal Oktober
Ilustrasi Rupiah-Dolar. (poto/net)
Jakarta, Satuju.com — Laju penguatan rupiah tertahan pada perdagangan perdana Oktober 2026. Mata uang Garuda dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (1/10/2026).
Mengacu data Refinitiv, rupiah terdepresiasi 0,08 persen ke level Rp17.885 per dolar AS. Pelemahan tersebut membekukan penguatan 0,50 persen pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya, Rabu (30/9/2026), ketika rupiah ditutup di posisi Rp17.870 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat tipis. Pada pukul 09.00 WIB, DXY naik 0,03 persen ke level 101,482.
Pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini diperkirakan masih mempengaruhi sejumlah sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar mengejutkan pada rilis data inflasi Indonesia periode September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mengadakan pengumuman data inflasi tahunan, inflasi inti, dan inflasi bulanan pada pukul 11.00 WIB.
Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 lembaga dan lembaga pengukuran Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi 0,30 persen secara bulanan pada September 2026.
Sementara secara tahunan, inflasi diperkirakan meningkat menjadi 3,30 persen. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi Agustus 2026 yang tercatat sebesar 0,21 persen secara bulanan dan 3,19 persen secara tahunan.
Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai, diperkirakan menjadi salah satu sumber tekanan terhadap inflasi pada bulan September.
Data inflasi tersebut akan menjadi perhatian pasar untuk mengukur perkembangan tekanan harga domestik sekaligus melihat ruang kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Apabila inflasi masih berada dalam kondisi terkendali, ruang bagi BI untuk menjaga dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dinilai masih terbuka. Sebaliknya, tekanan harga yang lebih tinggi dari perkiraan dapat mendorong bank sentral mengambil kebijakan secara lebih hati-hati, terutama dalam menentukan arah suku bunga.
Dolar AS Masih Jadi Perhatian
Dari pasar global, dolar AS masih bertahan di sekitar level tertinggi dalam dua bulan. Penguatan greenback didukung tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS di tengah kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global yang terkait dengan perkembangan konflik di Timur Tengah.
Sepanjang September 2026, indeks dolar AS tercatat menguat sekitar 2 persen. Kondisi tersebut menunjukkan permintaan terhadap aset berdenominasi dolar masih relatif tinggi dan menjadi salah satu faktor yang berpotensi menghambat ruang penguatan rupiah.
Sentimen terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) juga menjadi perhatian pelaku pasar.
Data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk Agustus yang berada di bawah perkiraan sebelumnya mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
Namun, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun tetap menyentuh level tertinggi baru.
Kenaikan imbal hasil tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal pemerintah AS, tingginya penerbitan obligasi, serta potensi tekanan inflasi global.
Situasi tersebut membuat dolar AS masih mendapatkan dukungan di pasar keuangan global, meskipun pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed secara berturut-turut.
Dengan demikian, arah rupiah pada perdagangan Kamis akan sangat bergantung pada respon pasar terhadap data inflasi domestik serta perkembangan sentimen global, khususnya pergerakan dolar AS dan imbal hasil US Treasury.
