Rupiah Tertekan Enam Hari Beruntun, Kurs Spot Mendekati Rekor Terlemah Rp18.188 per Dolar AS
Ilustrasi Dolar dan Rupiah. (poto/net)
Jakarta, Satuju.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (28/10/2026). Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah menjadi enam hari perdagangan berturut-turut, sekaligus membawa kurs spot mendekati rekor terlemah sepanjang masa.
Berdasarkan data perdagangan, kurs rupiah spot melemah Rp28 atau 0,15 persen menjadi Rp18.184 per dolar AS. Posisi tersebut hanya terpaut Rp4 dari level terendah sepanjang masa di Rp18.188 per dolar AS yang tercatat pada 8 Juni 2026.
Tekanan terhadap rupiah bahkan sempat lebih besar pada perdagangan intraday. Kurs spot menyentuh Rp18.191 per dolar AS, mendekati level tertinggi yang pernah tercatat sebesar Rp18.209 per dolar AS pada 8 Juni 2026 pukul 12.52 WIB, berdasarkan data Bloomberg.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) juga melanjutkan pelemahan untuk lima hari perdagangan berturut-turut.
Pada hari Rabu, rupiah Jisdor melemah Rp44 atau 0,24 persen menjadi Rp18.183 per dolar AS. Posisi ini menjadi level terlemah rupiah Jisdor sepanjang masa.
Konflik Geopolitik dan Penguatan Dolar AS Tekan Rupiah
Pelemahan rupiah mempengaruhi sejumlah sentimen eksternal, antara lain konflik geopolitik, kenaikan harga minyak, serta meningkatnya ekspektasi bahwa kebijakan moneter Amerika Serikat akan tetap ketat.
Tekanan juga muncul seiring penguatan dolar AS dalam beberapa hari terakhir. Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia, naik 0,07 persen menjadi 102,39. Kenaikan tersebut memperpanjang penguatan indeks dolar menjadi empat hari perdagangan berturut-turut.
Di dalam negeri, sentimen negatif turut datang dari kekhawatiran mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, penyedia indeks pasar global.
Sementara itu, pergerakan imbal hasil surat utang negara Indonesia untuk tenor menengah hingga panjang dilaporkan cenderung mendatar sejak pekan sebelumnya. Kondisi tersebut berlangsung di tengah upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar keuangan.
BI masih menegaskan komitmennya untuk melakukan intervensi guna meredam tekanan terhadap rupiah dan menjaga stabilitas nilai tukar.
Pembelian Surat Utang AS oleh Sejumlah Negara Menurun
Di pasar keuangan global, data Departemen Keuangan dan Departemen Luar Negeri AS menunjukkan pembelian surat utang pemerintah AS atau US Treasury oleh sejumlah negara yang mendukung AS mencapai US$174,3 miliar selama delapan bulan pertama 2026.
Nilai tersebut menjadi yang terendah untuk periode delapan bulan sejak 2021. Secara tahunan, pembelian bersih surat utang US Treasury jangka menengah dan panjang dilaporkan turun sekitar 60 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejumlah negara Asia yang selama ini dikenal memiliki surplus besar juga mengurangi pembelian surat utang AS.
Jepang, yang merupakan pemegang US Treasury terbesar, tercatat hanya membeli US$389 juta selama delapan bulan pertama 2026. Nilai itu turun 99 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Korea Selatan bahkan mencatatkan penjualan bersih US Treasury sebesar US$23,8 miliar. Angka tersebut menjadi penjualan bersih terbesar untuk periode delapan bulan sejak 1977. Taiwan juga membukukan penjualan bersih obligasi pemerintah AS.
Perubahan alokasi investasi tersebut menjadi salah satu perkembangan yang dicermati pelaku pasar di tengah dinamika kebijakan moneter dan pergerakan dolar AS.
Mata Uang Asia Bergerak Bervariasi
Pelemahan rupiah pada perdagangan Rabu juga terjadi bersamaan dengan tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia. Won Korea Selatan mencatat pelemahan terbesar dalam daftar mata uang yang dipantau, yakni 0,89 persen.
Rupee India melemah 0,11 persen, dolar Singapura turun 0,09 persen, dolar Hong Kong melemah 0,009 persen, sedangkan yuan China turun 0,006 persen.
Sebaliknya, beberapa mata uang Asia berhasil menguat terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia naik 0,28 persen, peso Filipina menguat 0,24 persen, dan dolar Taiwan naik 0,19 persen.
Baht Thailand turut menguat 0,08 persen, sementara yen Jepang naik 0,07 persen.
Pergerakan yang bervariasi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang kawasan tidak berlangsung secara seragam. Bagi rupiah, perkembangan konflik geopolitik, arah kebijakan moneter AS, harga minyak, serta respon Bank Indonesia akan menjadi faktor penting yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar selanjutnya.
