Kepemimpinan, Alam dan Kiamat: Ketika Negara Lalai, Bencana Menimpa

Ilustrasi. (poto/net).

Penulis: Damai Hari Lubis, Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)

Satuju.com - Anak-anak menjadi yatim, atau istri kehilangan suami. Suami bisa kehilangan istri atau Istri kehilangan ayah dan anak. Atau anak jadi yatim piatu.  Atau sebuah keluarga kehilangan saudara, ipar dan keponakan keponakannya. Atau para cucu kehilangan kakek dan nenek semua bisa mendeskripsikan terbitnya lara sepanjang otak masih melekat dalam tempurung kecuali idiot.

Sebuah organisiasi negara memang bukan pekerjaan mudah 1 orang pimpinan negara yang tertinggi tapi melibatkan koordinasi semua menteri atau kepala departemen atau hanya kepala bidang atau seksi di institusi pemerintahan sekalipun.

Negara merupakan sebuah sistim hubungan kinerja antara sektor dengan sektor lainnya. Karena pemerintahan negara terdiri dari eksekutif dan legislatif yang jelas jelas selaku penyelenggara negara yang bertanggungjawab kepada rakyat dan satu lagi lembaga penyelenggara negara yakni yudikatif, ketika hakim menghukum ringan yang seharusnya berat bahkan menerima sogok lalu membebaskannya. Semua perilaku penyelenggara pemerintahan sebuah negara memiliki faktor mata rantai dalam dampak kehidupan bangsanya. 

Lalu apa hubungannya kepemimpinan negara dengan alam yang berakibat banjir dan tanah longsor di Sumatera hingga membawa ratusan ribu batang pohon kelaut dari atas gunung atau lembah atau perbukitan dan saat turunnya mengikut sertakan dengan menyeret korban nyawa penduduk sekitar atau para pekerja ?

Sama dengan negara, alam pun merupakan ekosistim, berhubungan dengan nasib manusia yang terseret air atau tertimbun tanah termasuk hewan-hewan langka atau hewan ternak (flora dan fauna yang saling bergantung). Semua berhubungan antara mentalitas manusia dengan alam kehidupan serta jurisdiksi kehidupan didalamnya termasuk nyawa harta manusia yang termahal, karena 1 nyawa pun tak bisa dibeli walau negara menjual istana dan seluruh tanah air plus harta seluruh para koruptor diatas muka bumi.

Deforestasi dipastikan salah satu penyebab kiamat, karena kiamat dimulai dari kerusakan yang dibuat oleh manusia sendiri, secara ilmiah deforestasi wujud penghilangan atau pengurangan tutupan hutan secara permanen, baik disengaja maupun tidak, untuk dialihfungsikan menjadi penggunaan lahan lain seperti pertanian, perkebunan, misal perkebunan sawit, peternakan, pertambangan, atau pembangunan infrastruktur, yang menyebabkan hilangnya pepohonan dihutan dan lereng lereng bukit, sehingga berimplikasi kerusakan ekosistem. Selainnya deforestasi merupakan ancaman serius bagi keanekaragaman hayati, juga iklim, akibat meningkatnya gas dan rumah kaca yang bahannya banyak diambil dari tanah atau hutan, gunung atau pertàmbangan, tanah dan air yang membuat erosi dan masyarakat adat terusik. Lalu mengapa nengara anomali dari makna "negara wajib menjaga dan melindungu kelestarian alam dan budaya lingkungan, adat dan budaya kelompok manusia ?

Memang Tuhan menyiapkan semua ciptaannya adalah sengaja untuk diolah dan didayagunakan oleh ciptaanya yang paling mulia yaitu manusia, serta lengkap oleh Tuhan difasilatasi otak (akal) untuk digunakan sesuai kebutuhan dan seimbang (balancing factors of nature and needs) bukan berkewajiban berlaku serakah dan semena- mena kepada manusia lainnya (homo homini lupus). Karena akal juga disertai "sofware" atau nurani yang bisa mendeteksi dan memerintahkan terhadap perilaku yang baik dan safety dan mana yang buruk yang berdampak nestapa bagi banyak orang, deforestasi adalah implementasi tak seimbang antara akal dan perut yang sempit, namun membahayakan dunia dan seluruh isinya.

Maka pada batasan tertentu antara moral dan mentalitas manusia sudah tidak kompak, akhirnya Zat yang Distingsi namun memiliki kekuatan dan kekuasaan Absolulitas, yaitu Tuhan, Allah yang Maha Pencipta, Maha Kuat, Maha Adil dan Maha Bijaksana dan Maha Pemutus mentakdirkan, "AKU  kiamatkan ciptaanKu karena nyata makhluk berpikir ciptaanKU sudah tidak sanggup mengelola sesuai peruntukan.