Swasembada Beras di Negeri Sawit: Antara Piring Kosong dan Kebun Meluas
Ilustrasi. (poto Ai)
Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
Satuju.com - Sadar ndak ente wak, areal kebun sawit terus semakin meluas. Menggerus hutan-hutan tersisa. Sementara areal sawah padi terus menyusut. Bisa-bisa sawah pun tinggal cerita. Swasembada pangan terancam. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Indonesia dulu dielu-elukan sebagai lumbung padi Asia. Sekarang? Kita sedang latihan jadi republik ekstraktif dengan satu komoditas andalan, sawit. Diam-diam, pelan-pelan, tapi brutal. Tahun 2025, luas kebun sawit sudah tembus 17,3 juta hektare. Sawah? Tinggal sekitar 7,5 juta hektare. Artinya, sawit sudah lebih dari dua kali lipat sawah. Ini bukan sekadar perbandingan angka. Ini nisan kecil untuk peradaban nasi yang dulu kita banggakan sambil dadar telur.
Pemerintah tentu tidak tinggal diam. April 2025 diumumkan, swasembada beras. Stok Bulog aman, katanya. Bahkan cukup sampai 2026. Rakyat diminta tenang, nasi masih bisa ditanak. Tapi mari kita intip ke belakang panggung. Dalam 32 tahun terakhir, 1,22 juta hektare sawah raib. Lima tahun terakhir saja, 79.607 hektare sawah berubah wujud. Dari tempat menanam padi menjadi perumahan, jalan tol, kawasan industri. Sawah-sawah itu tidak hilang, wak. Mereka naik kelas jadi klaster perumahan dengan nama-nama sok agraris, Green Rice Residence, Padi Hills. Lucunya, di sana tidak ada padi, tidak ada petani, yang ada hanya cicilan 25 tahun dan pagar besi.
Di sisi lain, negara sibuk membangun bendungan. Targetnya gagah, 259 bendungan hingga 2025, 72 di antaranya dibangun sejak 2015. Foto peresmian bertebaran, gunting pita berkilau, baliho senyum pejabat berseri. Tapi pertanyaan receh yang tidak pernah dijawab, berapa yang benar-benar berfungsi? Data resminya entah di mana. Beberapa bendungan bahkan sudah lelah sebelum bekerja. Bendungan Tapin di Kalimantan Selatan, Raknamo di NTT, diresmikan megah, tapi jaringan irigasinya tak kunjung rampung. Airnya mengalir, iya. Ke mana? Bisa jadi ke kebun sawit, bisa jadi ke lubang anggaran, bisa juga ke kenangan.
Lalu kita punya masalah klasik yang selalu disapu pakai slogan, petani. Rata-rata usia petani Indonesia kini di atas 50 tahun. Yang muda? Hanya 2,14 persen yang mau turun ke sawah. Sisanya memilih bertani konten. Gen Z panen like, bukan panen padi. Mereka hafal algoritma TikTok, tapi asing dengan irigasi. Bertani tidak lagi dianggap cita-cita, tapi hukuman turun-temurun. Dikerjakan bukan karena bangga, tapi karena tidak sempat kabur.
Beginilah wajah negara agraris kita hari ini, sawah menyusut, petani menua, dan kebijakan sering lupa minum air putih. Di satu sisi, ekspor CPO digenjot, biofuel berbasis sawit dipuja-puja. Di sisi lain, swasembada beras dibanggakan dengan fondasi rapuh, cuaca yang makin tak bisa ditebak, bendungan yang belum tentu mengairi sawah, dan petani yang tinggal menghitung musim sebelum pensiun abadi. Ini bukan pembangunan, wak. Ini sulap prioritas. Ini menanam sawit di atas luka, lalu berharap nasi tetap hangat di piring rakyat.
Kalau tren ini diteruskan, kita akan hidup di negeri dengan kebun sawit sejauh mata memandang, ekspor melonjak, biofuel mengalir ke mobil-mobil mahal, tapi nasi di meja makan makin mahal dan makin tipis. Bendungan bertambah, sawah berkurang. Beton menjamur, bumi megap-megap. Investor disambut karpet merah, petani dibiarkan berjalan kaki tanpa alas.
Suatu hari nanti, kita akan punya banyak alasan untuk berkata, “Seandainya dulu tidak serakus ini.”
Selamat datang di Republik Sawit Raya. Negeri tempat nasi perlahan jadi cerita nostalgia, petani jadi tokoh legenda, bendungan berdiri tanpa air, sawah ada tanpa padi, dan swasembada dirayakan tanpa petani. Kita rajin menanam sawit, tapi sering lupa, masa depan tidak bisa dimakan tanpa nasi.

