Tragedi Teuku Markam: Dari Penyumbang Emas ke Korban Nasionalisasi Paksa
Ilustrasi. (poto Ai)
Satuju.com - Prolog: Sejarah Indonesia menyimpan banyak kisah tentang pengorbanan yang tak pernah dicatat dengan adil. Salah satunya adalah tragedi sebuah potret getir tentang bagaimana kekuasaan dapat membalas air susu dengan air tuba.
Ini bukan sekadar cerita tentang seorang taipan, melainkan kisah tentang patriotisme yang dibayar mahal, kekayaan yang dirampas atas nama negara, dan pengkhianatan politik yang bekerja rapi di balik jargon stabilitas.
1. Sang Taipan “Dapur” Indonesia
Di era Presiden, Teuku Markam bukan sekadar pengusaha sukses. Ia adalah pilar logistik tak resmi republik. Melalui , Markam memegang hak eksklusif ekspor–impor strategis—mulai dari karet hingga mobil Nissan—di tengah situasi ekonomi darurat masa Konfrontasi Malaysia.
Kekayaan: Begitu fantastis hingga ketika negara kekurangan dana untuk membangun , Markam menyumbangkan 28 kg emas dari total 38 kg emas yang melapisi lidah api Monas.
Peran Politik: Ia kerap dijuluki “dompet berjalan” Soekarno—penopang finansial bagi diplomasi dan agenda revolusi di saat kas negara terseok.
2. Prahara 1966: Pergantian Angin Politik
Petaka datang pasca G30S/1965. Ketika kekuasaan Soekarno digerus naiknya , lingkaran dalam sang proklamator menjadi sasaran. Logika rezim baru sederhana: untuk melumpuhkan Soekarno, keringkan dulu sumber dananya. Teuku Markam pun masuk daftar target utama.
3. Fitnah dan Penangkapan Tanpa Pengadilan
Tahun 1966, Markam ditangkap dengan tuduhan yang berubah-ubah:
Dikaitkan dengan PKI (tuduhan “sapu jagat” era itu),
Dicap koruptor dan antek Soekarno.
Faktanya: Ia dipenjara selama 8 tahun (1966–1974) tanpa pernah diadili secara sah—berpindah dari Rutan Budi Utomo ke Nirbaya—mengalami tekanan mental dan penyakit, sementara hak hukumnya ditiadakan.
4. Operasi Perampokan Aset (Nasionalisasi Paksa)
Inilah bab paling kelam. Saat Markam mendekam di balik jeruji, negara menerbitkan Keppres No. 31 Tahun 1966.
Isi: Pengambilalihan seluruh aset PT Karkam demi “kepentingan negara”.
Skala Sitaan: Uang tunai jutaan dolar, tanah, gedung, kapal, hingga mobil mewah—lenyap tanpa mekanisme ganti rugi.
Transformasi: Aset tersebut dilebur menjadi .
Pengelolaan: Perusahaan hasil sitaan dikelola oleh jenderal-jenderal kepercayaan rezim baru; keuntungannya diduga menjadi dana taktis untuk konsolidasi kekuasaan.
5. Akhir yang Menyakitkan
Bebas pada 1974, Markam mencoba bangkit lewat PT Marjaya dan proyek infrastruktur di Aceh serta Jawa Barat. Namun hingga wafatnya pada 1985, aset raksasanya tak pernah kembali. Lebih ironis lagi, namanya sebagai penyumbang emas Monas sempat “menghilang” dari buku-buku sejarah sekolah selama puluhan tahun.
Analisis Kasus
Kasus Teuku Markam adalah contoh telanjang politisasi hukum dan ekonomi:
Motif Ekonomi: Rezim baru membutuhkan dana cepat; aset Markam menjadi sasaran paling empuk.
Motif Politik: Menghancurkan jaringan Soekarno agar sang proklamator kehilangan daya tawar.
Teuku Markam wafat membawa luka yang tak sembuh. Emasnya berkilau di puncak ibu kota—disaksikan jutaan mata setiap hari—sementara nasib penyumbangnya terkubur di balik jeruji dan kebisuan sejarah.
Epilog: Melawan Lupa di Bawah Bayang Monas
Kisah Teuku Markam bukanlah sekadar catatan kaki dalam sejarah transisi kekuasaan di Indonesia. Ia adalah monumen itu sendiri—sebuah monumen ketidakadilan yang tak kasat mata, berdiri berdampingan dengan kemegahan Monas yang kasat mata.
Setiap kali kita menatap lidah api emas di puncak Monas yang berkilau diterpa matahari Jakarta, kita sebenarnya sedang menatap manifestasi dari cinta seorang anak bangsa yang dibalas dengan pengkhianatan. Emas itu abadi, namun keadilan bagi penyumbangnya sempat mati suri selama puluhan tahun.
Mengangkat kembali kisah Teuku Markam bukan untuk mengungkit dendam sejarah, melainkan sebuah upaya melawan lupa. Ini adalah pengingat pahit bahwa stabilitas politik dan pembangunan ekonomi di masa lalu seringkali dibangun di atas puing-puing nasib mereka yang dikorbankan—tanpa pengadilan, tanpa keadilan.
Semoga, dengan terus merawat ingatan ini, cahaya emas di puncak Monas tidak hanya menerangi kota, tetapi juga menerangi sisi gelap sejarah kita agar tragedi serupa tak terulang kembali.

