Di Balik Pemindahan Pabrik Pupuk: Jejak Bagi-Bagi Proyek
Ilustrasi. (poto Ai)
Oleh: Lhynaa Marlinaa
Satuju.com — Di balik keputusan kontroversial memindahkan lokasi pabrik pupuk dari Teluk Bintuni ke Fakfak, tersembunyi "pesta pora" sektor konstruksi yang nilainya mencapai triliunan rupiah.
Jika publik terfokus pada angka kerugian negara Rp2,9 triliun, para pemain di belakang layar justru melihatnya sebagai peluang pendapatan. Dari penelusuran pola tender dan rekam jejak korporasi, terlihat indikasi kuat bagaimana kue proyek ini dibagi-bagi, mulai dari pekerjaan tanah hingga pipa gas.
Berikut adalah bedahan "cara main" dan entitas yang patut disorot dalam pusaran proyek ini:
1. Pesta "Cut and Fill": Jatah Tuan Tanah?
Pekerjaan pematangan lahan (land clearing/cut and fill) di Fakfak bukan pekerjaan remeh. Dengan kondisi geografis berbukit dan batuan karst, nilai kontrak untuk meratakan tanah seluas 500-2.000 hektare ini diprediksi sangat fantastis, jauh lebih mahal dibanding Bintuni yang relatif siap.
Pola Permainan:
Dalam banyak Proyek Strategis Nasional (PSN) di daerah, pekerjaan pematangan lahan seringkali menjadi "jatah" bagi kontraktor lokal yang terafiliasi dengan penguasa daerah atau tokoh nasional yang membawa proyek tersebut. Ini adalah cara termudah mendistribusikan dana proyek sebelum kontraktor utama (EPC) masuk.
Entitas dalam Radar:
Publik perlu menyoroti perusahaan-perusahaan di bawah naungan Rifa Capital, bendera bisnis milik Bahlil Lahadalia.
* PT Bersama Papua Unggul: Perusahaan konstruksi ini memiliki rekam jejak memenangkan tender proyek jalan di Papua (misalnya Jalan Bofuwer-Windesi). Pola ini menimbulkan pertanyaan: apakah alat berat yang meratakan bukit di Fakfak nanti adalah milik jejaring bisnis yang sama?
* PT Dwijati Sukses: Entitas lain dalam jaring bisnis Bahlil yang kerap muncul di situs lelang proyek pemerintah. Keterlibatan perusahaan yang terafiliasi langsung dengan pejabat publik dalam proyek yang dia awasi sendiri adalah definisi klasik konflik kepentingan.
2. Misteri Pipa Gas: Siapa Pemainnya?
Karena pabrik dipindah menjauh dari sumber gas, negara harus membiayai pembangunan pipa transmisi gas sepanjang ±180 KM. Ini adalah komponen cost overrun terbesar.
Pemain Kunci: PT Rukun Raharja Tbk (RAJA)
Nama emiten ini santer terdengar setiap kali ada proyek infrastruktur gas besar.
* Jejak Rekam: RAJA, yang dikendalikan oleh Hapsoro Sukmonohadi (Happy Hapsoro), suami Puan Maharani, memiliki sejarah panjang dalam proyek strategis, seperti Pipa Blok Rokan dan pipa BBM Cikampek-Plumpang.
* Koneksi: Dalam industri migas, RAJA sering bermitra dengan anak usaha Pertamina (Pertagas). Jika tender pipa gas Fakfak jatuh ke tangan konsorsium yang melibatkan RAJA, ini akan mempertegas pola "oligarki migas" di mana proyek infrastruktur energi vital dikuasai oleh segelintir pemain dengan bekingan politik kuat.
3. Modus "Cost Recovery"
Cara main paling halus untuk menutupi biaya bengkak ini adalah lewat skema SKK Migas. Biaya pembangunan pipa yang seharusnya tidak perlu ada (jika pabrik tetap di Bintuni) kemungkinan akan dibebankan ke cost recovery.
* Artinya: Negara yang menanggung biaya pembangunan pipa tersebut dengan cara mengurangi jatah setoran keuntungan migas ke kas negara.
* Dampaknya: Uang triliunan keluar dari kantong negara untuk membayar kontraktor swasta (pembuat pipa), sementara rakyat kehilangan potensi pendapatan.
4. Konflik Kepentingan Terbuka
Apa yang membuat kasus Fakfak ini mencolok adalah vulgarnya konflik kepentingan yang dipertontonkan.
* Wasit Merangkap Pemain: Bahlil Lahadalia bertindak sebagai regulator (Menteri Investasi) yang memindahkan lokasi proyek, namun di sisi lain, ia memiliki jejaring bisnis konstruksi yang beroperasi aktif di wilayah tersebut.
* Pengawalan Langsung: Pernyataan Bahlil bahwa ia akan "mengawal langsung" proyek ini bisa dibaca dua arah: memastikan proyek berjalan lancar, atau memastikan distribusi proyek jatuh ke tangan yang "tepat".
Kesimpulan Investigatif
Proyek Pupuk Fakfak bukan sekadar pemindahan lokasi geografis. Ini adalah pergeseran alur uang. Dari yang seharusnya efisien di Bintuni, menjadi proyek padat karya dan padat modal di Fakfak yang menguntungkan kontraktor pematangan lahan dan pembangun pipa gas.
Siapa yang diuntungkan? Mereka yang memiliki alat berat di Papua dan mereka yang memiliki spesialisasi memasang pipa gas ratusan kilometer. Pola ini mengonfirmasi bahwa dalam proyek strategis, keputusan politik seringkali mendahului kelayakan teknis, demi memfasilitasi "bagi-bagi kue" di rantai pasok konstruksi

