Ketika Vatikan Menolak Board of Peace: Pesan tentang Prinsip dan Martabat Global

Ilustrasi. (poto Ai)

Oleh: Lhynaa Marlinaa

Satuju.com - Di atas kertas, sebuah dewan yang didedikasikan untuk membangun kembali Jalur Gaza dan menjaga tata tertib global terdengar seperti inisiatif mulia. Namun, ketika Presiden AS Donald Trump meluncurkan gagasan Board of Peace, sebuah undangan eksklusif yang mensyaratkan kontribusi miliaran dolar, Vatikan memilih untuk mundur secara teratur. Keputusan ini bukan sekadar soal angka, melainkan tentang prinsip fundamental, tradisi diplomasi, dan martabat kemanusiaan.

​Mempertahankan Muruah Lembaga Internasional

Bagi Takhta Suci, perdamaian dunia bukanlah sebuah proyek privat eksklusif. Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, menyuarakan kekhawatiran mendasar bahwa dewan independen semacam ini dapat mengikis otoritas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Vatikan jg menilai bahwa krisis internasional yang sangat kompleks membutuhkan panggung multilateral yang inklusif. Membuat sebuah kelompok baru yang bertindak di luar kerangka PBB dinilai berisiko meminggirkan peran lembaga internasional yang selama ini menjadi jembatan bagi negara-negara di seluruh dunia.

​Karakter Unik dan Benturan Pendekatan

Inisiatif Board of Peace diketahui mematok syarat finansial yang fantastis bagi anggotanya, yakni kontribusi sekitar 1 miliar dolar AS untuk sebuah kursi permanen. Bagi Vatikan—entitas dengan status netral dan karakter diplomasi spiritual yang unik—pendekatan transaksional semacam ini sangat tidak sejalan dengan misi mereka. Takhta Suci beroperasi di ranah moral dan advokasi kemanusiaan. Mengikuti inisiatif yang seolah mematok harga untuk sebuah "suara perdamaian" dianggap bertentangan dengan esensi dan posisi historis mereka.

​Menghindari Kesan 'Kolonialisme' Modern

Kritik paling tajam atas inisiatif ini datang langsung dari tokoh gereja di jantung konflik. Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, secara blak-blakan menyoroti pendekatan sepihak dari skema tersebut. Ia mengkritik keras gagasan di mana nasib dan masa depan rakyat Palestina diputuskan sepenuhnya oleh kekuatan luar, tanpa pelibatan langsung dan bermakna dari masyarakat yang bersangkutan. Menurut Pizzaballa, skema seperti ini memiliki corak yang mengingatkan pada "operasi kolonialis", di mana keputusan krusial diketuk dari ruang rapat mewah tanpa mendengar suara mereka yang menderita di tengah reruntuhan.

​Pesan Tersembunyi dari Sebuah Penolakan

Sikap Vatikan menolak Board of Peace pada akhirnya mengirimkan satu pesan yang sangat jernih: perdamaian sejati tidak bisa dibeli dengan tiket masuk bernilai tinggi, dan jg tidak bisa dipaksakan dari atas ke bawah. Bagi Takhta Suci, jalan menuju resolusi konflik tetap harus melewati dialog yang setara, penghormatan terhadap hukum dan lembaga internasional, serta mendengarkan langsung jeritan pihak-pihak yang paling terdampak oleh perang.