MBG di Persimpangan: Antara Kepedulian Gizi dan Dugaan Kepentingan
Ilustrasi. (poto Ai)
Oleh: Lhynaa Marlinaa
Satuju.com - Di tengah gencarnya implementasi program unggulan pemerintah, sebuah kritik tajam menggema dari kalangan mahasiswa. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang awalnya digadang-gadang sebagai jalan keluar untuk masalah kelayakan gizi nasional, kini dipertanyakan urgensi serta motif di baliknya.
Kritik tersebut lantang disuarakan oleh Ketua BEM 2026, Tiyo Ardianto. Dalam sebuah orasi yang berapi-api dan disambut riuh massa, Tiyo membedah anomali antara data kemiskinan dengan target sasaran program pemerintah. Berpijak pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat tingkat kemiskinan di bawah 10%, ia mempertanyakan kelogisan memaksakan program ini kepada 82 juta anak Indonesia.
"Harusnya yang mendapat MBG bukan semua anak-anak, tapi hanya 9% anak-anak," tegas Tiyo di hadapan massa yang membenarkan pernyataannya.
Dugaan Kepentingan di Balik Anggaran Raksasa
Lebih dari sekadar persoalan salah sasaran, orasi tersebut menggarisbawahi adanya dugaan komersialisasi berlindung di balik program sosial. Tiyo menyoroti pengelola yayasan atau program yang disebutnya bisa meraup pendapatan mencapai Rp 100 juta hingga Rp 125 juta per bulannya.
Tudingan semakin tajam ketika ia menyebut bahwa peluang mengelola program ini diduga kuat tidak melewati mekanisme yang demokratis maupun transparan. Alih-alih persaingan sehat, Tiyo menyebut hak kelola jatuh kepada pihak-pihak yang memiliki kedekatan khusus dengan lingkaran kekuasaan.
Ironi yang Menyayat Hati
Di tengah narasi proyek bernilai fantastis, Tiyo mengangkat sebuah kisah tragis yang menjadi ironi menyayat hati: kasus seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidupnya hanya karena persoalan uang Rp 10.000. Kisah ini menjadi instrumen untuk menelanjangi betapa timpangnya prioritas kebijakan saat ini, di mana triliunan rupiah mengalir untuk program yang dipertanyakan, sementara nyawa melayang karena nominal yang sangat kecil di pelosok negeri.
Puncak Orasi: "Maling Berkedok Gizi"
Kekecewaan terhadap ketimpangan tersebut berujung pada puncak orasi yang sangat berani. Tiyo melontarkan kritik keras terhadap rezim pemerintahan Prabowo Subianto, menyamakan ketidakadilan yang terjadi dengan kezaliman absolut di masa lalu.
Orasi itu ditutup dengan sebuah pelesetan satire dari akronim MBG itu sendiri. Bersama massa yang hadir, kepanjangan Makan Bergizi Gratis diubah menjadi sebuah teriakan perlawanan yang menggema: "Maling Berkedok Gizi!"
Kritik dari Ketua BEM 2026 ini seakan membuka paksa ruang diskusi publik yang lebih luas. Apakah piring-piring makanan yang disajikan benar-benar murni untuk gizi anak bangsa, atau ada pihak tertentu yang sedang mencari keuntungan di baliknya?

