Oligarki dan Pemimpin “Bisa Disetir”: Anatomi Pembusukan Kekuasaan

Ilustrasi. (poto Ai)

Oleh: ​Lhynaa Marlinaa

Satuju.com – Ada alasan sistematis mengapa panggung politik kita hari ini lebih mirip sirkus daripada ruang diskusi masa depan. Di tengah carut-marut tata kelola negara, kita menyaksikan sebuah ironi besar: orang-orang visioner yang punya otak justru dipinggirkan tak diberi panggung, sementara mereka yang "bisa disetir" diberikan karpet merah oleh para cukong.

​Mari kita bedah anatomi pembusukan ini:

1. "Pintar" Itu Berbahaya bagi Oligarki

Bagi kelompok oligarki, kecerdasan dan visi adalah ancaman. Mengapa? Karena orang pintar cenderung memiliki integritas. Mereka bicara data, bukan pesanan. Mereka membangun sistem, bukan melayani kepentingan kelompok.

​Sebaliknya, pemimpin yang "bodoh" atau sekadar bisa disetir untuk "eksekusi tanpa mikir" adalah komoditas emas. Mereka mudah dimanipulasi, senang disanjung, dan yang paling penting: oligarki akan dengan sukarela membantunya karena pemimpin semacam ini tidak akan pernah menggigit tangan yang memberinya makan.

2. Pasukan Penjilat dan Rakyat yang "Lelah"

Sistem yang korup ini dipelihara oleh dua pilar utama di bawahnya:

​Si Licik (The Opportunists): Para penjilat profesional yang mengerumuni kekuasaan. Bagi mereka, kebenaran adalah soal siapa yang memberi jabatan. Mereka adalah "satpam" narasi yang akan menyerang siapa pun yang berani mengusik kenyamanan tuan mereka.

​Si Koplak (The Cynics): Inilah tragedi sesungguhnya. Rakyat di akar rumput yang sudah patah arang. Saking seringnya dikhianati, mereka menjadi apatis, malas berpikir kritis, dan akhirnya pasrah menunggu negara ini runtuh dengan sendirinya.

3. Jebakan "Roti dan Sirkus" di Akar Rumput

Media sosial memang sudah kita menangkan, tapi ruang gema di socmed sering kali berhenti di layar smartphone kelas menengah. Di kalangan bawah, politik masih sebatas "besok makan apa".

​Oligarki memanfaatkan kemiskinan dan kemalasan berpikir ini dengan politik perut: beri mereka sedikit hiburan dan bantuan instan (roti dan sirkus), maka mereka akan memberikan suara untuk pemimpin yang mudah disetir tadi. Ini adalah siklus penghancuran bangsa yang sangat terstruktur.

4. Menjadikan Kebenaran sebagai Senjata Mematikan

Kita tidak bisa lagi hanya berteriak di ruang hampa digital. Jika socmed adalah senjatanya, maka literasi radikal adalah amunisinya.

Kebenaran harus diturunkan dari "bahasa langit" elit akademis ke "bahasa pasar". Pengetahuan harus diselundupkan ke warung-warung kopi, ke desa-desa, dan ke setiap ruang di mana rakyat kecil berkumpul.

​KESIMPULAN: Melawan atau Musnah

​Selama si pintar tetap diam dan si jujur tetap sembunyi, panggung kekuasaan akan terus menjadi milik para penjilat. Negara ini tidak akan runtuh karena serangan dari luar, tapi karena pembusukan dari dalam oleh mereka yang licik dan mereka yang diam.

​Maaf, kalau realitanya teramat pahit, tapi ya begitulah cara mesin korup ini bekerja. Tidak mengapa kita dianggap berisik, karena diam bukan lagi pilihan. Saatnya berhenti jadi penonton di reruntuhan. Sebarkan kebenaran, atau biarkan si penjilat berpesta di atas kehancuran kita. Terima kasih juga untuk Anda yang masih menolak tunduk pada kebodohan!