Pernyataan Duka untuk Khamenei Jadi Sorotan, Sabar Tambunan Singgung Arah Diplomasi Indonesia
Sabar Tambunan. (poto/ist)
Jakarta, Satuju.com - Pernyataan duka cita atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menuai perhatian publik. Tokoh politik Sabar Tambunan menyoroti ucapan belasungkawa yang disampaikan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri atas meninggalnya pemimpin Iran tersebut di usia 86 tahun.
Menurut Sabar, sikap Megawati dinilai sejalan dengan konsistensi politik luar negeri Indonesia yang berprinsip bebas aktif dan non-blok, sebagaimana telah dirintis sejak era Presiden Sukarno.
Ia mengungkit kembali kebijakan Megawati saat menjabat presiden, ketika disebut menolak ajakan atau tekanan Presiden Amerika Serikat saat itu, George W. Bush, untuk mendukung invasi ke Irak.
“Penolakan itu adalah sikap yang sangat prinsip. Indonesia tetap konsisten pada politik bebas aktif dan tidak berpihak dalam konflik global,” ujar Sabar dalam keterangannya.
Sabar juga menyinggung kondisi ekonomi Indonesia pada masa awal 2000-an yang masih berada dalam pengawasan International Monetary Fund (IMF). Saat itu, Indonesia disebut masih bergantung pada program bantuan dana talangan pascakrisis ekonomi 1998.
Ia menilai, di tengah tekanan ekonomi dan keterbatasan fiskal, keputusan pemerintah untuk tidak terlibat dalam agenda militer Amerika Serikat merupakan langkah berani.
Selain itu, Sabar turut menyoroti capaian kelembagaan pada masa pemerintahan Megawati, seperti pembentukan Mahkamah Konstitusi, Komisi Pemberantasan Korupsi, serta penguatan peran Komisi Pemilihan Umum.
Di sisi lain, Sabar juga menyinggung belum adanya pernyataan resmi duka cita dari Presiden Prabowo Subianto terkait wafatnya Ali Khamenei. Ia mempertanyakan sikap pemerintah saat ini di tengah eskalasi konflik global, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Menurutnya, dalam dinamika geopolitik yang kompleks, Indonesia tetap perlu menjaga konsistensi politik luar negeri bebas aktif serta tidak terseret dalam kepentingan blok kekuatan besar.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari diskursus publik yang berkembang di media sosial terkait posisi Indonesia dalam merespons konflik global dan dinamika hubungan internasional terkini.

