Hidup Ini Sandiwara: Belajar Menertawakan Dunia ala Gus Dur

Gus Dur. (poto/net)

Oleh: Jufri 

Satuju.com - “Hidup ini sandiwara.” Kalimat itu terdengar ringan, bahkan kadang dianggap sekadar ungkapan populer. Namun jika direnungkan lebih dalam, kalimat itu sebenarnya menyentuh satu kenyataan paling mendasar tentang manusia: kita semua sedang memainkan peran.

Sejak lahir, manusia masuk ke panggung kehidupan yang telah dipenuhi berbagai naskah sosial. Kita diberi identitas, diberi harapan, diberi tanggung jawab. Ada yang menjadi pemimpin, ada yang menjadi pengikut. Ada yang menjadi pengajar, ada yang menjadi pelajar. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita terus berganti peran: di rumah menjadi orang tua atau anak, di tempat kerja menjadi profesional, di masyarakat menjadi warga.

Namun seperti sandiwara pada umumnya, yang tampak di panggung sering berbeda dengan yang terjadi di balik layar.

Ada orang yang terlihat kuat di depan publik, tetapi sebenarnya sedang rapuh. Ada yang tampak bijak, tetapi di dalam dirinya penuh kegelisahan. Ada pula yang terlihat sederhana, tetapi justru memiliki kedalaman jiwa yang luar biasa.

Masalahnya, manusia sering lupa bahwa dirinya hanya sedang memainkan peran. Kita menjadi terlalu serius dengan panggung ini. Kekuasaan dianggap identitas sejati. Jabatan diperlakukan seolah-olah keabadian. Harta dipuja seakan-akan ia akan ikut masuk ke liang kubur.

Padahal panggung itu sementara.

Dalam banyak tradisi spiritual, kehidupan dunia sering digambarkan sebagai persinggahan, tempat manusia menjalankan amanah sebelum kembali kepada Yang Maha Kuasa. Aktor datang dan pergi, generasi berganti, tetapi panggung kehidupan terus berjalan.

Kesadaran ini bisa melahirkan dua sikap. Ada yang menjadi sinis, merasa semua tidak berarti. Namun ada pula yang justru menjadi lebih bijaksana: menjalani hidup dengan kesungguhan, tetapi tidak kehilangan kemampuan untuk tersenyum.

Di sinilah humor menemukan tempatnya.

Humor bukan sekadar candaan kosong. Humor adalah tanda kedewasaan batin. Ia menunjukkan bahwa seseorang memahami keterbatasan manusia. Ia tahu bahwa dunia ini tidak sepenuhnya bisa dikendalikan, dan banyak hal yang tampak sangat serius sebenarnya hanya bagian dari drama kehidupan.

Tokoh bangsa yang sangat memahami hal ini adalah Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur. Ia sering menyampaikan kritik sosial dan politik melalui humor yang sederhana tetapi penuh makna.

Salah satu ucapannya yang terkenal berbunyi:

“Gitu saja kok repot.”

Kalimat pendek itu sesungguhnya mengandung refleksi yang dalam. Gus Dur seperti ingin mengatakan bahwa manusia sering membuat hidup terlalu rumit karena ego, ambisi, dan kepentingan.

Ada pula pernyataannya yang sering dikutip:

“Tuhan tidak perlu dibela.”

Pernyataan ini bukan meremehkan agama, justru mengandung kritik halus terhadap manusia yang merasa paling benar dan paling suci. Melalui humor dan ironi, Gus Dur membuka ruang bagi orang untuk berpikir lebih jernih.

Bahkan ada satu peristiwa yang sering dikenang banyak orang. Ketika tidak lagi berada di pusat kekuasaan, Gus Dur pernah terlihat meninggalkan Istana dengan memakai celana pendek. Bagi sebagian orang, itu mungkin terlihat biasa saja. Tetapi bagi banyak pengamat, sikap itu seperti sebuah simbol: cara Gus Dur menertawakan dunia dan kekuasaan.

Seolah-olah ia ingin mengatakan bahwa kekuasaan hanyalah bagian dari panggung kehidupan. Hari ini seseorang berada di istana, besok ia kembali menjadi manusia biasa. Tidak ada yang benar-benar abadi dalam panggung dunia.

Humor Gus Dur lahir dari kesadaran itu.

Ia tidak membenci dunia, tetapi juga tidak terpesona olehnya. Ia menjalani hidup dengan serius, tetapi tidak kehilangan kemampuan untuk melihat ironi kehidupan.

Maka ketika kita mengatakan hidup ini sandiwara, mungkin maksudnya bukan untuk merendahkan kehidupan. Justru untuk mengingatkan bahwa manusia tidak boleh terlalu tenggelam dalam perannya.

Kita tetap harus memainkan peran dengan tanggung jawab. Tetapi kita juga perlu kesadaran bahwa panggung ini tidak abadi.

Karena itu, di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh drama—politik yang panas, konflik yang tak kunjung selesai, ambisi manusia yang tidak pernah puas—barangkali kita perlu belajar dari kebijaksanaan sederhana itu.

Menjalani hidup dengan kesungguhan, tetapi tetap memiliki ruang untuk tersenyum.

Sebab mungkin benar, seperti yang sering diperlihatkan Gus Dur kepada kita: tertawa adalah salah satu cara paling bijak untuk memahami dunia yang sering kali terlalu serius.

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni