Di Balik Gitar dan Status Tahanan: Narasi Sunyi Yaqut dalam Lingkaran Kontroversi

video singkat berdurasi sekitar dua menit. (poto/ist)

Oleh: Lhynaa Marlinaa

Satuju.com – Sebuah video singkat berdurasi sekitar dua menit mendadak mengguncang jagat maya. Bukan orasi politik atau kebijakan negara, melainkan sosok Yaqut Cholil Qoumas—mantan Menteri Agama yang kini tengah terbelit kasus hukum—tampak duduk santai di sebuah sofa kulit, memetik gitar akustik, dan melantunkan sebuah lagu legendaris karya Iwan Fals dan Sawung Jabo.

​Lingkaran Aku Cinta Padamu

​Dengan balutan kemeja putih, peci hitam, dan sarung bermotif, Yaqut melantunkan lirik-lirik filosofis:

​"Berbicara tentang kehidupan, berbicara tentang kebudayaan... Di lingkaran kami mengucapkan, aku cinta padamu."

​Lagu berjudul "Lingkaran Aku Cinta Padamu" (proyek Sirkus Barock, 1994) ini seolah menjadi antitesis dari kegaduhan yang sedang menimpa dirinya. Di saat publik mempertanyakan keberadaannya di Rumah Tahanan (Rutan) KPK, video ini muncul sebagai konfirmasi visual: Sang Mantan Menteri kini berstatus sebagai tahanan rumah.

​Kontroversi dan Keteduhan yang Semu?

​Langkah hukum KPK yang memberikan status tahanan rumah bagi Yaqut per Maret 2026 ini memicu perdebatan hangat. Sebagian pihak melihat video ini sebagai bentuk ketenangan batin di tengah proses hukum, sementara yang lain mengkritiknya sebagai privilese yang tidak didapatkan oleh semua tahanan kasus korupsi.

​Kasus dugaan korupsi kuota haji yang menyeret namanya memang menjadi noktah hitam dalam perjalanan kariernya. Namun, dalam video ini, Yaqut seolah ingin menunjukkan sisi lain: seorang pria yang kembali ke "lingkaran" terkecilnya—rumah dan musik—sembari menanti ketuk palu keadilan.

​Memilih lagu "Lingkaran Aku Cinta Padamu" tentu bisa dimaknai beragam. Apakah ini pesan cinta untuk para pendukungnya yang setia, ataukah sebuah refleksi tentang "lingkaran" kekuasaan yang kini telah berlalu?

​Yang pasti, denting gitar itu menjadi pengingat bahwa di balik jeruji besi maupun pagar rumah tahanan, kemanusiaan dan seni seringkali menjadi pelarian terakhir bagi mereka yang sedang diuji oleh waktu.