Konsep Smart Forest City IKN Jokowi Dikritik Greenpeace: Ancamannya Jauh Lebih Besar

Konsep smart forest city yang dilekatkan pada Ibu Kota Nusantara (IKN)

Jakarta, Satuju.com - Konsep smart forest city yang dilekatkan pada Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai Juru Kampanye Greenpeace Indonesia Rio Rompas hanya seperti tiruan atau cosplay. Sebab pada faktanya, ancamannya justru lebih besar. 

Jadi, klaim pemerintah bahwa 70 persen lahan IKN adalah kawasan hijau dalam konsep smart forest city itu seperti cosplay saja. Karena faktanya, ancamannya lebih meluas, katanya kepada Tempo, dikutip Senin, 4 Maret 2024. 

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyebut IKN adalah kota pintar berbasis hutan dan alam dengan proporsi 70 persen. Sementara itu, areal hijaunya mencapai 80 persen. 

IKN Nusantara juga dipersiapkan dengan transportasi publik berbasis energi hijau yang terbuka di berbagai sektor. Mulai dari infrastruktur, transportasi, teknologi, pendidikan, energi, keuangan, pariwisata, kesehatan hingga perumahan.

Menurut Rio, smart forest city yang disebut Jokowi itu layaknya hutan-hutan buatan yang dibangun. “Justru hutan alam yang seharusnya menjadi penopang ekosistem regional itu akan musnah. Termasuk hutan alam yang memang ada di sekitar situ,” ujarnya.

Smart forest city, menurut dia menghilangkan hutan alam yang kaya akan cadangan karbon serta keanekaragaman hayati. Namun, Greenpeace belum menganalisis berapa lama hutan tersebut akan kembali menghasilkan cadangan karbon sebesar aslinya. Masing-masing tipe hutan memiliki kandungan karbon yang berbeda-beda. 

“Angkanya harus dihitung spesifik dengan luasan analisis hutan alam yang tersisa. Kami belum membuat perhitungan spesifiknya. Kalau hitungan kami, deforestasi hutan alam di kawasan IKN dari 2011 sampai 2020 ada 9.725 hektare. Itu di luar Hutan Tanaman Industri. Kalau di kawasan IKN hutan alam primer atau mangrove masih luas dan berpotensi terancam karena aktivitas pembangunan IKN,” ujarnya. 

Permasalahannya, kata Rio, adalah hutan alam tersebut merupakan hutan hujan, bukan hutan monokultur. Seperti hutan tanaman eukaliptus di IKN yang disampaikan NASA melalui satelitnya beberapa waktu lalu. Hutan alam memiliki berbagai macam keanekaragaman hayati, berbeda halnya dengan hutan monokultur. 

“Jadi, hutan alam ini kemudian terancam punah. Nah, sementara konsep smart forest city yang seperti cosplay itu tidak akan berpengaruh signifikan sih sebenarnya dalam menghentikan atau menangani deforestasi yang meningkat di Indonesia,” ucapnya. 

Deforestasi di masa mendatang tidak hanya terjadi di kawasan inti IKN saja, namun juga di wilayah luas IKN, hingga Kalimantan Timur dan pulau Kalimantan itu sendiri. 

“Selain hilangnya hutan dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati, dampaknya memang akan serius. Tidak ada unsur lain yang mendukung sebenarnya adalah investasi yang besar akan semakin besar. Jadi, juga akan berdampak pada lingkungan,” tutur Rio. 

Namun, satu aspek yang paling penting sebenarnya menurut Rio adalah dampaknya terhadap masyarakat adat di sana. Sejak IKN dibangun, banyak penyelesaian yang akhirnya mengorbankan masyarakat adat. “Ada yang dikriminalisasi, ada yang lahannya diambil.”