Haram Tambang, Bisa Juga Makruh

Ilustrasi tambang (net)

Polemik pertambangan akhir-akhir ini, yang digagas khusus untuk Ormas Islam, menggelitik naluri penulisnya.

Bukan apa apa, sebab fakta yang terjadi dalam dinamika pertambangan tanah air telah menghadirkan kengiluan.

Tapi jangan tanya, ada yang menatap kerusakan lingkungan akibat dingin, lubang menganga, konflik sosial, gundul hutan, gangguan air tanah akibat pertambangan.

Mereka bukan orang sembarangan. Sebagian besar kaum terpelajar, bahkan belajar ushul fiqh, fiqh mumamalat dan pendekar istimbath (ahli hukum Islam).

"Telah nyata kerusakan di darat dan lautan akibat ulah tangan manusia, "kata Firman Tuhan yang telah lama hafal di kepala.

Tapi apalah daya, tambang yang merugikan manusia dan ekologi yang sudah jelas keharamannya, alih-alih dicegah, malah berubah jadi makruh. Begitulah penulis membaca tanggapan antar manusia zaman sekarang.

Alfanya nurani terhadap daya rusak tambang, bisa disebabkan oleh dua sisi mata uang _hubbudduniya_. Pura pura tidak tahu tidak pernah mendengar (realitas konflik dan kerusakan sosial ekologis akibat tambang) dan sisi kedua bisa jadi tergiur fulus. Namun hal demikian jangan heran, dahulu pun sudah pernah terjadi. 

Sekedar menolak lupa, penulis jadi teringat sosok Abdullah bin Ubay si batang balok yang tersandar (QS. Al Munaafiqun ayat 4). Abdullah bin Ubay penampilannya menarik dan tutur katanya manis mempesona. Calon pemimpin tertinggi Madinah pra hijrah inilah yang telah berbunga-bunga hatinya melihat peluang besar, sehingga membuatnya akan menganut prinsip Al fadlu liman shadaq (kemuliaan bagi yang jujur) dan dirinya terobesesi oleh pemeo Al fadlu liman sabaq (kemuliaan bagi yang lebih dulu alias aji mumpung) ). Didepan hitung untung rugi, nalar tsaqafah islamiyahnya goyah. Ditambah lagi kesetiaan pada umat plus ruhul jihad tak dimilikinya, kecuali dalam pernyataan bersayap yang selalu dipuja pengikutnya.

Dalam situasi demikian menguji komitmen aqidah, kepekaan humanistik bisa jadi kepingan batu bara, nikel dan bauksit menfleksibelkan hukum fiqhnya, dari haram-haram jika...- makruh-halal-harus...."

Wahai para ulama, wahai para pendidik, para pendidik umat, simaklah firman Allah swt dibawah ini, 

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita tentang orang yang telah Kami berikan kepada ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. Al-A'raf: 175)

Namun biarlah dramaturgi kontestan pertambangan tahun 2024 ini kita nikmati sembari menunggu matahari terbenam yang indah berbuah menjadi bunga sejarah yang adil, Pada masanya. Kelak akan terperangkap mana emas mana loyang. Siapakah yang teguh dijalan dakwah liilaa kalimatillah dan siapa pula yang berjatuhan diantaranya. Sejarah selalu menjadi “Mahkamah Konstitusi” yang jujur, bening dan tulus. Yang mencatat para pejuang seteguh Natsir Setulus Hamka. Karena mereka yakin akhirat lebih utama dan kekal. Sedang kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang sedikit dan menipu.....

 

Penulis: Elviriadi, Ph.D